9/25/2013

Hmmm, akhirnya saya punya waktu lagi untuk nge-blog. Cukup lama juga sejak saya menulis article terakhir saya. Senang rasanya, bisa duduk dan menuangkan ide-ide saya kembali dalam bentuk tulisan yang bisa saya baca lagi di lain waktu untuk mengingatkan kembali hal-hal yang saya lewati dalam hidup ini. Kali ini saya ingin berbagi sedikit mengenai rhema yang saya dapatkan dari firman Tuhan yang saya bagikan dalam ibadah di TRINITY Fellowship. Kami membahas firman Tuhan secara exposisi, dimana kami mempelajarinya kitab per-kitab, dan ayat per-ayat. Kami ada di surat Filipi dan Tuhan benar-benar bicara lewat firman-Nya. Saya ingat ketika kami mempelajari Filipi 3, saya begitu terkagum dengan pengalaman yang dibagikan oleh Paulus, walaupun Ia sedang dalam penjara dan dirantai namun sukacitanya tak hilang. Tidak heran surat Filipi disebut Surat Sukacita. Satu hal yang membuat saya terkagum dengan kisah Paulus di sini adalah ketika ia berkata dalam Filipi 3:7-8 “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,” Kita kenal siapa Paulus, terlepas dari usahanya mengejar dan menganiaya orang Kristen di masa lalu, ia adalah seorang terpelajar dan bisa dikatakan yang terpandai di antara orang Yahudi, bagian dari Sanhedrin (petinggi kaum Farisi), ia salah satu orang ternama di kalangan Yahudi, dan dihormati. Pengetahuannya akan hukum taurat dan kitab para nabi tak dapat tertandingi, namun semuanya itu berubah total seketika pada perjumpaannya dengan Yesus dalam perjalanan menuju Damascus. Saya lalu merenungkannya dan bertanya pada diri saya sendiri, maukah saya melepaskan segala sesuatu bagi pengenalan akan Tuhan? Saya ingin kita merenung sejenak, apa tujuan hidup kita, apa yang menjadi target atau ambisi dalam hidup kita? Bukankah keberhasilan? Bukankah untuk mencapai kebahagiaan, posisi, mencari kenikmatan hidup dan bahkan ketenaran? Pertanyaannya sekarang adalah, setelah mendapatkannya beranikah kita menukar semua itu dengan pengenalan akan Kristus? Saya bertanya-tanya, perjumpaan seperti apa yang dialami oleh Paulus sampai ia berani berkata “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,” . ini adalah sebuah statement yang tegas. Coba anda renungkan. ini bukan sekedar perjumpaan biasa. Perjumpaan ini membawa dampak bukan Cuma pada kehidupan Paulus secara rohani, tapi juga dalam semua area hidupnya. Sebelum perjumpaannya dengan Yesus, Paulus bisa dikatakan ada pada puncak tertinggi sukses, memiliki kehormatan dan kekuasaan. Jika kita gambarkan Paulus secara modern menurut gambaran orang Indonesia saat ini, maka kira-kira dia akan dipanggil dengan nama Prof.Dr. Paulus, SH, M.Sc, MA, P.hd. Dia akan dikenal sebagai ahli hukum no 1 di Negara ini dan tak tertandingi, bisa dikatakan dia selalu mendapat IPK 4.00 di setiap mata kuliahnya. Bukannya saya melebih-lebihkan, namu demikian catatan dalam sejarah alkitab bahwa memang pernah hidup seorang yang sangat terdidik di masanya dan sangat berpengaruh dan orang itu bernama Paulus dari Tarsus. Namun sangat mengagumkan ketika Paulus, orang terdidik itu berjumpa dengan Yesus, semua yang ia banggakan sebelumnya ia lepaskan. Bagi saya itu sangat WOW!!!! Bayangkan seorang yang mencapai sukses sejak usia muda dan masa depan terbentang luas di hadapannya, namun ia menukarkan semua itu hanya untuk mendapatkan satu hal, pengenalan akan Kristus. Sungguh sebuah perjumpaan yang luar biasa! Yang mengubahkan sseorang Paulus yang dulunya bangga dengan apa yang ia capai menjadi seorang pelayan Tuhan yang berani berkorban apapun juga bagi Yesus. Saya kemudian berdoa, Tuhan saya ingin perjumpaan seperti itu. Saya yakin anda juga menginginkan hal yang sama. Sempat saya bertanya pada diri saya sendiri, sudahkah perjumpaan saya dengan Yesus membuat orang lain bertanya-tanya, “bagaimana mungkin? Saya tahu siapa dia, mana mungkin?” Terlebih dari itu, sejauh manakah perjumpaan saya dengan Yesus membawa saya pada titik dimana saya berkata, “Cukup Yesus saja”. Ini menjadi kerinduan saya sekarang, dimana perjumpaan saya dengan Yesus memberanikan saya untuk berkata tidak pada hal-hal lain, bahkan pada hal yang paling saya inginkan dalam hidup ini. Kita harus jujur bahwa kita semua punya ambisi masing-masing dalam hidup ini, besar ataupun kecil. Kita semua punya rencana bagi hidup kita sendiri, bagi masa depan kita. Kadang tanpa kita sadari semua hal itu membuat kita begitu terikat dengan dunia ini, menjadikan kita orang yang mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan orang lain. Saya rindu untuk sampai pada titik itu, sebagaimana Paulus. Ia merelakan semuanya itu TANPA paksaan dan tanpa diminta oleh siapapun juga. Doa saya adalah agar kita sama-sama mencapai level itu, dimana kita berani berkata, “None but Jesus” Amin. Saya teringat lagu ini, yang selalu mengingatkan saya pada perjumpaan dan pengenalan akan Yesus yang tak dapat ditukar dengan apapun juga. Saya sertakan link-nya di bawah, agar bisa anda download. Tuhan berkati.

Popular Posts

Edited by Jack Loloin. Diberdayakan oleh Blogger.

Author Info

Cari Blog Ini

Like This Theme

featured Slider

About Me

Hi, I am the author Elegance Blog.This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style.

Like us

Facebook

About me

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Praesent non leo vestibulum, condimentum elit non, venenatis

eros.

Kontributor

Contact us

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Categories

Our Team

Slider (Add Label Name Here!) (Documentation Required)

I am the Author



Video of the Day

Sponsor

y

Popular Posts