
Lesson Narrative
Kehancuran Manusia
Contoh-contoh apa saja dari kehancuran manusia yang telah anda lihat, dengar, atau anda jumpai minggu ini? Masalah-masalah fisik apa saja yang telah anda lihat? Apakah itu sakit-penyakit, kematian, atau kemiskinan? Masalah-masalah rohani apa yang telah anda jumpai? Apakah itu roh-roh jahat, penyembahan berhala, atau korupsi? Masalah-masalah sosial apa yang anda perhatikan? Apakah itu hubungan pribadi yang telah hancur? Apakah itu ketidakadilan sosial? Hal-hal apalagi? Bukti-bukti dari kehancuran telah tersebar di mana-mana! Ketika kita membaca koran, menonton siaran televisi , atau melihat apa saja yang telah terjadi di sekeliling kita, kita melihat banyak, bahkan terlalu banyak contoh-contoh kehancuran.
Roma 1:21 membantu kita untuk mengerti kehancuran dari ras manusia:
Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.
Ayat-ayat ini melukiskan gambaran yang sangat dingin dari manusia yang telah hancur. Gambaran ini sangat berbeda dengan yang kita lihat dalam Kejadian 1:31, ketika Allah melihat ciptaan-Nya dan mengatakan bahwa apa yang telah diciptakan-Nya adalah baik. Tetapi pada pasal-pasal berikutnya, dalam Kejadian 6:6, Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Allah menyesal dan bersedih karena Dia telah menciptakan kita! Apakah yang telah mengubah penilaian Allah? Adalah ketidaktaatan—manusia tidak lagi hidup sesuai dengan tujuan Allah bagi mereka.
Hal ini adalah benar adanya—dan hal ini tidak hanya terjadi dalam Kitab kejadian. Sepanjang kita menelusuri Alkitab, kita mendapati banwa manusia-manusia ciptaan Allah telah memberontak melawan kehendak-Nya. Jika saja kita mau jujur terhadap diri kita sendiri, kita akan mengetahui bahwa inilah yang terjadi terhadap keadaan manusia akhir-akhir ini. Kita tidak taat. Kita tidak lagi hidup sesuai rancangan dan panggilan yang Allah telah tetapkan bagi hidup kita.
Kedaan manusia tanpa Allah adalah tidak berpengharapan. Kita dapat melihatnya dengan memandang ke sekeliling kita atau membaca berita-berita—dan Kitab Suci juga telah memberitahukannya kepada kita. Kejadian 6:5 mengatakan kepada kita bahwa kecenderungan hati manusia adalah kejahatan. Roma 3:2 mengingatkan kita bahwa kita semua telah berdosa dan menyimpang dari kehendak Allah. Efesus 2:1 berkata bahwa kita sudah mati—tidak berpengharapan karena adanya dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran kita tanpa adanya Allah. Pada akhirnya, Roma 2:5 mengatakan kepada kita bahwa, tanpa adanya campur tangan Allah, kita akan diperhadapkan kepada murka-Nya.
Ketika mengajarkan pelajaran ini, kita melihat pada Kitab Suci ini kemudian kita minta kepada para peserta untuk berbagi dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok-kelompok kecil ini mengambil sebuah kertas, dan menggambar pada setengah bagian bawah kertas tersebut suatu gambaran yang mewakili keadaan manusia tanpa Allah. Kita mendorong mereka untuk berpikir secara kreatif. Kita harus benar-benar mengerti sepenuhnya sifat-sifat manusia yang telah hancur. Bagaimanakah anda menggambarkan keadaan manusia yang telah hancur tanpa Allah?
Ya, keadaan umat manusia tanpa Allah adalah sangat hancur dan benar-benar menderita—tetapi allah tidak mau kita untuk tetap tinggal dan berdiam diri dalam keadaan seperti itu. Dalam Yohanes 3:17, kita mempelajari bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan, bukan untuk menghakimi orang-orang yang telah hancur. Filipi 2:5-11 mengingatkan kita bahwa Kristus adalah hamba yang bersedia untuk mengosongkan diri-Nya sendiri dan bersedia datang untuk mati mewakili orang-orang yang telah hancur. Allah kita luar biasa. Dia punya rencana untuk menebus kehancuran kita. Sangat jelas bahwa hal ini merupakan kabar yang sangat baik bagi semua umat manusia.
Tujuan Allah untuk Masa Depan
Kitab Suci juga menegaskan bahwa Allah punya rencana yang indah untuk masa depan. Dalam Yesaya 11:4-9, ada suatu penglihatan yang penuh kedamaian. Dalam Yesaya 61:1-4, telah dikatakan bahwa kita juga turut berperan serta dalam pemulihan semua ciptaan-Nya. Dalam Yohanes 14:1-4, kita mendengar bahwa Yesus telah pergi untuk menyediakan suatu tempat bagi kita. Roma 8:21 meyakinkan kita bahwa semua ciptaan-Nya akan dimerdekakan dari ikatan-ikatan yang muncul pada saat kejatuhan manusia. Dalam Wahyu 21:1-4, kita membaca suatu masa depan yang sangat indah—tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi air mata, dan tidak ada lagi sakit-penyakit. Pada akhirnya, Matius 19:28 mengatakan kepada kita bahwa Yesus akan kembali sebagai Raja. Allah punya rencana untuk masa depan, dan masa depan itu jauh lebiih baik dari apapun yang dapat kita bayangkan!
Saat mengajarkan pelajaran ini, setelah kita melihat ke dalam Kitab Suci, para peserta diminta untuk kembali kepada kelompok kecil mereka untuk menggambarkan apa yang telah mereka lihat dalam Kitab Suci menyangkut rencana Allah untuk masa depan. Saat mengembalikan kertas tersebut dengan gambaran yang pertama, pada bagian atas kertas tersebut, para peserta menggambar ilustrasi lain yang mewakili apa yang ayat-ayat ini katakan tentang tujuan Allah untuk masa depan. Apakah yang akan anda gambar? Banyak klompok telah menghasilkan ilustrasi yang sulit untuk dimengerti untuk menggambarkan tujuan Allah untuk masa depan. Sebuah ilustrasi yang sederhana untuk ini yaitu sebuah oval tiga dimensi, yang mengandung kata-kata ini yang menggambarkan rencana Allah untuk masa depan—Tak Ada Kematian, Perdamaian, Kelimpahan, dan Allah Tinggal Bersama-sama dengan Kita.
Ilustrasi yang lengkap ini menitikberatkan pada dua hal yang berlawanan antara keadaan manusia yang hancur tanpa Allah dan tujuan Allah yang indah untuk masa depan. Dalam keadaan kita yang hancur, setiap kecenderungan hati manusia adalah jahat, semuanya telah berdosa dan menyimpang dari kehendak Allah. Manusia, tanpa Allah, tidak mempunyai pengharapan sama sekali. Bahkan dalam kenyataannya, manusia yang tidak mau bertobat akan diperhadapkan pada murka Allah.
Tetapi . . . Allah mengutus Yesus untuk menyelamatkan kita, bukan untuk menghukum kita. Akan ada perdamaian dan kelimpahan. Kita akan turut berperan serta dalam pemulihan semua hal-hal yang telah hancur. Yesusu sedang mempersiapkan sebuah tempat bagi kita. Suatu saat nanti semua ciptaan akan dimerdekakan sepenuhya dari kehancurannya. Allah tidak hanya mengasihi orang-orang yang diciptakan-Nya, tetapi tujuan–Nya untuk masa depan adalah memulihkan semua ciptaan-Nya. Ciptaan Allah yang telah hancur sekarang ini suatu saat akan dibebaskan sepenuhnya dari ikatannya, dan Roma 8:19-20 mengatakan kepada kita bahwa kebebasan ini akan dihubungkan dengan “kebebasan yang berkemenangan” dari anak-anak Allah. Tidak akan ada lagi kematian, sakit-penyakit, atau air mata. Yesus akan kembali sebagai Raja Di Atas Segala Raja ! Bangsa-bangsa akan melihat, tinggal di dalam, dan menikmati berkat-berkat dari kemuliaan Allah. Wahyu 21:24 mengatakan kepada kita bahwa “ bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi mambawa kekayaan mereka kepadanya.” Rencana Allah mencakup pemulihan dari orang-orang yang telah hancur dan ciptaan yang telah hancur, termasuk bangsa-bangsa !
Apakah ini merupakan kabar baik ? Ya, ini merupakan kabar yang sangat indah ! Tetapi bagaimana sikap kita menanggapi kabar baik ini merupakan hal yang paling penting. Kita dapat hidup di bawah awan gelap kehancuran dan menunggu kelepasan di masa depan – atau kita dapat berperan serta dalam visi Allah untuk masa depan.
Berikut ini adalah sebuah cerita yang menggambarkan hal yang telah diuraikan di atas. Beberapa tahun yang lalu, Bob Moffitt sedang mengunjungi Lima, Peru. Beliau bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Rudy. Rudy baru-baru saja menjadi seorang percaya, dan hidupnya telah benar-benar diubahkan secara drastis. Rudy seorang pemuda yang mempunyai standar kehidupan kelas menengah, tetapi ia mempunyai rasa belas kasihan terhadap orang-orang yang miskin, dan dia benar-benar ingin membagikan kabar baik yaitu Injil ini, dengan mereka.
Rudy memutuskan untuk melakukan sesuatu, jadi suatu hari dia naik bus dan pergi ke daerah kumuh di perbatasan Lima, membawa satu kantong yang penuh berisi traktat-traktat. Dia turun dari bus dan berjalan menuju seorang pria muda yang pertama dilihatnya. Rudy berkata, “Halo, saya Rudy. Siapa namamu?” Pria muda itu menjawab, “Saya Juan.” Rudy bertanya, “Apa yang anda sedang lakukan di sini?” Juan berkata: “Saya seorang pengangguran. Saya tidak punya pekerjaan. Saya lapar. Saya punya banyak sekali masalah.” Rudy mengambil sebuah traktat dari kantongnya dan berkata, “Ini! Traktat ini akan memberikan anda jawaban dari semua masalah anda.” Pria muda itu berkata, “Saya tidak membutuhkan traktatmu. Saya tahu isi traktat itu. Traktat itu berbicara tentang Yesus. Saya tidak membutuhkan Yesusmu!” Rudy menjawab, “Tetapi Yesus sanggup menyelesaikan masalahmu! Yesus mau anda untuk bersama-sama dengan Dia untuk selama-lamanya.” Juan berkata, “Saya membutuhkan roti sekarang.” Rudy berkata kepada Juan, “Yesus adalah roti kehidupan! Bacalah traktat ini. Traktat ini benar-benar dapat membantumu.”Akhirnya, Juan berkata, “Saya akan menunjukkan kepada anda apa yang saya pikirkan mengenai Yesus.” Dia mengambil sebuah traktat, merobeknya menjadi potongan-potongan kecil, dan menaruhnya di dalam mulutnya. Sementara Rudy tersentak melihatnya, Juan perlahan-lahan mengunyah dan menelan traktat itu. Dia berkata kepada Rudy, “Saya berkata kepadamu! Saya tidak membutuhkan Yesusmu. Saya membutuhkan roti!”
Pada saat Rudy mengatakan kepada Bob cerita ini, air mata bercucuran dari wajahnya. Dia berkata, “Saya sadar saya tidak akan pernah memberitakan tentang Yesus kepada mereka yang miskin kecuali saya juga dapat memberikan roti kepada mereka.” Jadi Rudy bekerjasama teman-temannya, membuka sebuah toko roti. Mereka menjual roti. Dengan keuntungan yang mereka peroleh, mereka membawa roti ke daerah kumuh. Mereka membagi-bagikan roti itu sambil menceritakan tentang Yesus. Saya rasa Juan mempunyai sebuah pesan yang perlu didengar oleh banyak orang. Dunia telah hancur, benar-benar hancur. Dan orang-orang yang telah hancur ini berkata, “Saya tahu kalau anda punya kabar baik tentang masa depan – tetapi tidakkah ada kabar yang lebih baik untuk saya, sekarang juga?”
Ya, tentu saja ada! Dosa telah menghalangi tujuan baik Allah bagi dunia ini, tetapi rencana Allah adalah untuk membangun kembali seutuhnya tujuan-Nya. Pemulihan masa depan tetap akan kita nantikan, tetapi tetap ada alasan-alasan yang ditawarkan untuk pemulihan dan pembangunan yang kuat di masa sekarang ini. Allah memanggil umat-Nya sebagai bukti masa kini dari kebangkitan Kristus di masa akan datang. Pemulihan sepenuhnya akan mengikuti kedatangan Yesus kembali — tetapi sekarang — anak-anak Allah akan diberi beban suatu tanggung jawab untuk membawa kehendak-Nya “di bumi seperti di surga” – untuk memperluas kerajaan-Nya di bumi dan “mempekerjakan” wilayah tersebut sampai Dia datang kembali.
Allah telah memberikan kepada orang-orangNya kesempatan untuk berperan serta dalam tujuan yang terpenting dalam sejarah. Allah mengizinkan kita untuk menjadi pemimpin. Tindakan kita akan mempunyai pengaruh yang kekal. Tidak ada tindakan yang kita lakukan yang bersesuaian dengan kehendak-Nya yang merupakan hal yang tidak berharga. Janda yang telah memberikan dua keping koin di bait Allah tidak pernah membayangkan bahwa tindakannya akan membawa pengaruh bagi banyak orang 2000 tahun kemudian. Kita juga, akan membawa pengaruh yang akan menjangkau sampai ke generasi masa depan, juah melampaui apa yang dapat kita bayangkan atau yang kita lihat pada saat ini. Jika jemaat gereja dapat mengerti akan adanya hubungan antara kehidupan mereka dengan tujuan Allah yang indah untuk umat manusia — baik pada masa sekarang maupun masa akan datang — mereka akan dapat melihat bahwa tidak ada masalah sebesar apapun yang dapat menghalangi hidup atau mati mereka.







