Enter Slide 1 Title Here

Enter Slide 2 Title Here

Enter Slide 3 Title Here

1/31/2020


Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”
(Matius 20:20-22)


'Tetapi orang banyak itu menegor mereka supaya mereka diam. Namun mereka makin keras berseru, katanya: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!” Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.'
(Matius 20:31-34)



Di atas adalah pertanyaan yang sama dengan dua jawaban yang berbeda. Ibu dari Yakobus dan Yohanes datang dan meminta kedudukan dan kebesaran di Sorga, namun Yesus berkata itu merupakan kehendak Bapa dan kemudian mengajarkan para murid bagaimana untuk menjadi yang terbesar di kerajaan Sorga, yaitu dengan menjadi yang terendah dan mau menjadi pelayan bagi saudara-saudara. Namun demikian Yesus tidak menolak ibu dari Yakobus dan Yohanes untuk mengajukan permohonannya. Di sini kita belajar bahwa tidak permintaan yang terlalu besar bagi Tuhan. Yesus tidak menolak permintaan sang ibu, namun Ia memberitahu bagaimana untuk menjadi terbesar di kerajaan sorga, dan itu membutuhkan kerendahan hati. Seringkali kita hanya datang kepada Tuhan dan melemparkan permohonan kita dan tidak mau mendengar apa yang Tuhan katakana tentang apa yang kita minta.

Di sisi lain ada dua orang buta yang datang, berteriak dan memohon pada Yesus agar mereka bisa melihat. Suatu hal yang menarik di sini adalah bahwa sekalipun mata mereka buta, tapi iman mereka tidak buta. Mereka tahu benar siapakah Anak Daud yang berdiri di hadapan mereka dan mereka percaya bahwa Ia sanggup melakukan apapun juga. Dari iman yang besar itu keluar sebuah permohonan yang penuh dengan ketulusan dan kerendahan hati “Kami hanya ingin bisa melihat”.  Ketulusan dan kerendahan hati itu menggerakan hati Yesus dengan belas kasihan dan Ia langsung menjawab permohonan mereka. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa, yaitu bahwa hal pertama yang kedua orang buta ini lihat adalah Wajah Sang Juru s’lamat.
 
Iman, Ketulusan & Kerendahan hati itu menggerakan Tuhan
Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya”. (Mazmur 73:1)

“Terang sudah terbit bagi orang benar dan sukacita bagi orang yang tulus hati”.
(Mazmur 97:11)

Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. w  Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. 
(Yohanes 20:29)

Kiranya kita bisa belajar dari dua orang buta ini, yakni iman mereka, ketulusan hati mereka dan juga kerendahan hati mereka.

Dari dua contoh di atas kita dapati bahwa tidak ada hal yang terlalu besar untuk kita bisa minta dari Tuhan, karena Tuhan melihat hati. Jadi ini bukan soal permintaan yang terlalu besar tetapi apakah yang mendasari permintaan itu.

Apapun yang kita sedang minta dari Tuhan saat ini, pastikan kita minta dengan tulus dan rendah hati dan hal itu keluar dari iman kita pada Tuhan, bahwa Ia mengerti dan sanggup menjawab kita.

Tuhan Memberkati
30/January/2020








1/30/2020


Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: “Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan.” Lalu Musa pun menyampaikan jawab bangsa itu kepada Tuhan.
(Keluaran 19:8)
 
Kami sanggup ikut Tuhan !!!
Sebelum hukum taurat diberikan, bangsa Israel meyakinkan diri di pasal 19, bahwa mereka sanggup melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Sungguh hal yang terlalu berani diucapkan. Namun Tuhan seolah menerima tantangan mereka dengan memberi 10 hukum tepat di pasal berikutnya.

Di sinilah letak awal kejatuhan bangsa Israel, yaitu tinggi hati. Seolah mereka ingin membuktikan bahwa mereka bisa mendapatkan pembenaran di hadapan Tuhan dengan perbuatan mereka sendiri. Sungguh hal yang miris, karena ketika hukum taurat diberikan bangsa Israel justru sudah gagal di hukum yang pertama :
Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. (Keluaran 20:3)

Amsal benar saat berkata; Tinggi hati mendahului kehancuran. Kesomombongan sebenarnya adalah bukti bahwa kita tidak mampu melakukan sesuatu yang kita sombongkan. Bangsa Israel yang dengan berani berkata akan melakukan segala yang Tuhan perintahkan, justru gagal di hukum pertama, bahkan sebelum Musa turun dan memberi hukum itu kepada mereka, karena mereka sudah membuat patung anak lembu emas dan menyembahnya.

Seringkali kita memberi iblis alasan dan dasar yang kuat untuk mendakwa kita dengan kesombongan kita, paahal sebenarnya tidak ada satupun yang benar-benar mampu mengikuti perintah Tuhan tanpa cela. Orang percaya yang sungguh-sungguh hanya bisa bertahan oleh karena kasih karunia Tuhan, dan karena Tuhan sendirilah yang menjaga.

Bagi Dia, yang berkuasa f  menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda g  dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, 
(Yudas 1:24)


Pembenaran kita di hadapan Tuhan adalah murni pekerjaan Tuhan sendiri tanpa ada campur tangan kita. Karena itu, adalah hal yang bodoh untuk melawan pencobaan dan godaan dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri, karena faktanya kita tidak akan pernah bisa.
Biarkan Tuhan menolongmu dan bekerja dalam hidupmu.


-Jack Loloin-
29/January/2020

1/29/2020


Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan. '
(Keluaran 16:35)
 
Kemana Ia membawa di sana Ia menyediakan
Tuhan sanggup memelihara hidupmu. Tuhan tidak akan membawamu ke tempat di mana kasih karuniaNya tidak dapat menjangkaumu. Dalam berjalan mengikuti rencana Tuhan dalam hidup kita, iman pada pemeliharaan Tuhan adalah hal yang wajib. Tuhan yang memanggil, Tuhan pula yang menyertai dan menyediakan.

Seringkali kita lebih mengejar penyediaan Tuhan tanpa mau mengikut Dia. Dalam Matius 28-18-20 Tuhan berjanji menyertai umatNya sampai pada akhir zaman, tapi janji penyertaan itu didahului oleh perintah memberitakan injil dan memuridkan segala bangsa.

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
(Matius 28:18-20)

Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang yang sama yang menyediakan. Bukankah nama lain dari Tuhan adalah Jehovah Jireh (Tuhan yang menyediakan)? Masalahnya banyak dari kita, tidak benar-benar percaya bahwa Tuhan sanggup menyediakan bagi kita.

Dalam menanggapi panggilan Tuhan, pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah : “Bagaimana saya akan hidup, bagaimana saya akan makan?” Seolah Tuhan tidak tahu apa yang kita butuhkan. Bukankah seorang bapa tidak akan membiarkan anaknya pergi menjalankan perintah darinya tanpa bekal? Bapa kita yang di Sorga lebih dari itu. Dia bukan hanya memberkati, tetapi Ia sendiri menyertai kita dan penyertaan Tuhan itulah yang paling kita perlukan.

Percaya, Tuhan tahu bagaimana memberi makan umatNya. Peristiwa Manna dari sorga merupakan bukti nyata penyertaan dan berkat Tuhan bagi orang-orang yang Dia panggil. Kalau Tuhan bisa pakai Mesir untuk memelihara Israel, memakai Manna dan Puyuh untuk memelihara mereka, Tuhan sanggup pakai apa saja untuk memeliharamu! 
Tuhan tidak pernah kehabisan cara untuk menolong dan menyediakan bagimu.

Tuhan berkati.

Jack Loloin
28/January/2020

1/28/2020



'dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” '
(Keluaran 14:11-12)
Bangsa Israel dibebaskan untuk beribadah kepada Tuhan, karena selama dalam perbudakan mereka takkan punya pilihan lain selain tunduk dan melakukan apapun yang diperintahkan tuannya. 

Ini merupakan gambaran yang tepat terhadap dosa yang memperbudak kita dan bagaimana Tuhan melepaskan kita. Tuhan membebaskan kita dari dosa artinya kita sekarang bebas untuk menyembah Tuhan dan beribadah kepadaNya dan tidak harus lagi patuh pada dosa. Karena kita dibebaskan dari perbudakan dosa, dosa tidak punya lagi kuasa atas kita. Sebagaimana seorang hamba yang ditebus dan dibebaskan, ia tidak lagi wajib mematuhi perintah tuannya, karena penebusan itu menghancurkan hubungan tuan dan hamba antara kita dan dosa. Sebagaimana Mesir tidak berkuasa lagi atas Israel, demikian pula dosa tidak lagi berkuasa atas kita umat tebusan Bapa.

Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.
 (Roma 6:14)

Memang dosa itu memikat dan seringkali kita terpesona dan merasa berat untuk benar-benar berkata tidak padanya. Orang Israel mengalaminya ketika mereka teringat akan makanan di Mesir dan berharap kembali kesana dan tidak mati di padang gurun. Padahal di seberang sana ada tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madu.

Inilah yang terjadi bila kita kehilangan kekaguman pada Tuhan dan janjiNya, kita akan kembali pada dosa yang lama. Ini merupakan hal yang tragis, karena dengan demikian kita secara tidak langsung berkata bahwa dosa kita lebih indah dan lebih memuaskan daripada Tuhan.
Untuk itulah kita perlu terus diingatkan akan janji Tuhan dan betapa bernilainya janji itu. Dengan firman Tuhan kita bisa diingatkan terus akan Tuhan dan janjiNya yang indah bagi kita.
Selama kita tidak kagum dengan Tuhan, selama itu pula kita akan terus jatuh di dosa yang sama.

Jack Loloin
27/01/2020


Popular Posts

Edited by Jack Loloin. Diberdayakan oleh Blogger.

Author Info

Cari Blog Ini

Like This Theme

featured Slider

About Me

Hi, I am the author Elegance Blog.This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style.

Like us

Facebook

About me

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Praesent non leo vestibulum, condimentum elit non, venenatis

eros.

Kontributor

Contact us

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Categories

Our Team

Slider (Add Label Name Here!) (Documentation Required)

I am the Author



Video of the Day

Sponsor

y