Enter Slide 1 Title Here

Enter Slide 2 Title Here

Enter Slide 3 Title Here

3/19/2011


Saatnya memperlebar wawasan dan mengambil langkah maju. Mari terima tantangan ini untuk maju dalam seleksi PPAN tahun ini.
Akan segera dibuka pendaftaran untuk program-program berikut :
1. ICYEP (Indonesia-Kanada)
2. SSEAYP (Kapal Pemuda Asia Tenggara-Jepang)
3. IMYEP (Indonesia-Malaysia)

Buktikan dirimu yang terbaik dan layak mewakili provinsi ini sebagai Duta Muda Indonesia.

PS : Info pendaftaran menyusul.

Tuhan memberkati!

NTT, ini waktumu!
Ship for South East Asian Youth Program / Program Kapal Pemuda Asia Tenggara-Jepang akan segera dibuka lagi.
Program Pertukaran Pemuda yang disponsori oleh Pemerintah Jepang ini akan dilaksanakan di Jepang dan 5 negara Asia Tenggara lainnya. Kegiatan inti dari program ini adalah Solidarity Group (SG), Club Activity (CA), National Day Presentation (NDP), Voluntary Activity yang merupakan kegiatan On board (di atas kapal). Sebagian besar dari kegiatan-kegiatan ini akan dilaksanakan di atas kapal pesiar Fuji Maru dalam pelayaran menuju 5 negara Asia Tenggara lainnya.
Kegiatan Off-board sendiri (di luar kapal) akan meliputi; Courtesy Call (Kunjungan kehormatan) ke setiap kepala negara di setiap negara tujuan, Institutional Visit, Interaction with local youth, dan yang paling ditunggu adalah HomeStay activity, dimana para peserta akan mendapat kesempatan tinggal di rumah keluarga angkat di setiap negara tujuan. Dalam kegiatan homestay para peserta berkesempatan mempelajari budaya lokal dan gaya hidup juga bahasa lokal.

Tujuan dari SSEAYP adalah mempererat persahabatan dan saling pengertian antara negara-negara Asia Tenggara dan Jepang.
Adapun negara-negara peserta program ini adalah Jepang dan 10 negara Asia Tenggara yang meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei, Myanmar, Vietnam, Laos, Camboja dan Thailand.

Info pendaftaran dan syarat menyusul.

Untuk info persiapan audisi dan seleksi Nusa Tenggara Timur, hubungi alumni tahun 2010: Jack Loloin -0852 391 620 78 (tidak melayani sms)
Atau melalui email : jacko_bush@yahoo.co.id.

Mari tunjukan kamu bisa menjadi Duta Muda Indonesia tahun ini.

Sukses selalu & Gbu

3/17/2011

Pagi ini saya membaca sebuah catatan dari seorang teman Indonesia yang study di Jepang. Tulisannya sangat menginspirasi saya secara pribadi dan akhirnya mendorong saya untuk menulis juga penglaman saya.
Beberapa waktu yang lalu Jepang dihantam gempa dan gelombang tsunami yang meluluh lantahkan negeri itu. Negeri matahari terbit. Dulunya saya tidak begitu tertarik belajar tentang Jepang. Bagi saya Jepang tidak ada bedanya dengan negara-negara maju lainnya yang kental dengan kehidupan mewah dan serba canggih. Bagi saya orang Jepang tidak lebih dari orang-orang gila kerja yang memaksa diri dalam mencapai sesuatu dan ketika hal itu tak dapat dicapai, maka mereka mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Tetapi begitu saya menginjakkan kaki di sana semua gambaran itu berubah menjadi inspirasi bagi saya. Sungguh!

Keteguhan hati dan kedisiplinan orang Jepang sudah sering saya dengar sejak saya masih duduk di bangku SD, tapi baru tahun lalu sampai sekarang saya mengerti.
Kita perlu belajar dari Jepang mengenai keteguhan/ketetapan hati dan kedisiplinan. Ada satu istilah Jepang yang begitu terkenal dan juga menjadi falsafah hidup orang Jepang, yakni "Gambaru/Gambate" yang artinya berjuang mati-matian. Pertama kali saya mendengar istilah itu, saya tidak mengerti apa artinya, lalu saya tahu dari teman saya kalau itu artinya selamat berjuang. Bagi saya yang waktu itu belum begitu mengenal Jepang, saya menganggap artinya tidak lebih dari sekedar mengucapkan "good luck", namun begitu saya mencoba masuk dalam lingkungan orang Jepang dan belajar hidup seperti orang Jepang baru saya mengerti apa arti sebenarnya dari "gambate dan gambaru".

"Gambaru" Berjuang mati-matian bagi orang Jepang bukan sekedar berjuang dan ketika tak dilihat adanya hasil lalu berhenti.
Saya melihat adanya suatu semangat yang berkobar tak peduli apapun keadaannya.
Satu contoh kecil, saya heran waktu berada di Jepang beberapa waktu yang lalu, ketika melihat para wanita karir yang walaupun dengan cuaca yang dingin tetap merasa nyaman dengan pakaian yang biasanya dipakai di cuaca normal bahkan terkadang mini. "Apakah mereka tidak merasa dingin?" Pikir saya. Baru kemudian saya tahu ternyata sejak di bangku SD, anak-anak sekolah di Jepang diajarkan prinsip "gambaru", dimana mereka diwajibkan datang ke sekolah tidak peduli betapa dinginnya cuaca. Dari kecil mereka tak dibiasakan hidup manja. Bahkan menurut saya, mungkin saja kata manja tak ada dalam kamus Jepang.
Tak heran Jepang bisa bangkit lagi setelah sempat dijadikan abu oleh bom atom Amerika. Ya, mereka bangkit lagi dari abu alias mulai dari NOL. Namun, dengan prinsip GAMBARU yg sudah melekat di kepala mereka, orang Jepang berhasil membawa negeri mereka menjadi negara tangguh bukan cuma dalam hal ekonomi, namun juga militer, pendidikan dan teknologi.

Saya ada di Jepang beberapa waktu yang lalu untuk mengikuti suatu program pertukaran pemuda. Kebetulan Jepang menjadi sponsor program ini yang katanya merupakan program pertukaran termahal di Asia dimana pemerintah Jepang mengeluarkan sekitar Rp.800 juta/orang. Kontingen Indonesia sendiri berjumlah 28 orang dan Indonesia merupakan salah satu dari 11 negara peserta. Bisa anda bayangkan berapa juta dollar yang dihabiskan untuk program itu? Awalnya saya merasa bersalah mengikuti program itu karena banyak orang yang bisa dibantu dengan dana sebesar itu.
Saya sempat bertanya, kenapa dana sebesar itu tidak digunakan saja untuk kegiatan social? Bayangkan berapa sekolah yang sudah bisa dibangun dengan dana untuk satu kontingen. Berapa jembatan dan fasilitas umum lainnya yang bisa dibangun dengan jumlah dana itu apalagi kegiatan ini bersifat tahunan.
Namun anda tahu apa jawab mereka dari pemerintah Jepang? Simak jawaban mereka: "Kami sadar besarnya biaya yang kami keluarkan setiap tahunnya untuk program ini. Dan kami sadar sepenuhnya berapa banyak fasilitas yang bisa kami bangun dengan uang sebanyak itu, tapi kami tidak investasi untuk benda mati tapi untuk yang hidup. Kalau kami membangun jembatan, sekolah, dll, apa yang dapat dihasilkan dari semua itu? Bukankah semua itu akan hancur seiring dengan waktu? Bagaimana jika terjadi bencana? 800 juta x 28 = 0 (NOL). Katakanlah 800 juta mungkin dipakai untuk membangun satu gedung sekolah, tapi ketika gedung itu hancur apalah artinya? Sebaliknya ketika 800 juta itu diinvestasikan untuk SATU ORANG MANUSIA, satu orang itu bisa membangun seribu jembatan dan seribu sekolah. Kami percaya pada kemampuan manusia dalam menghasilkan sesuatu maka dari itu kami tidak merasa rugi dalam hal pembiayaan karena satu orang itu dapat menghasilkan lebih dari apa yang telah
kami investasikan". Karena itu, saya percaya, dengan seijin Tuhan Jepang pasti akan bangkit lagi.
Dengan prinsip gambaru, Jepang pasti akan membangun istana kemakmuran mereka kembali dari sisa puing-puing kehancuran ini, karena mereka telah belajar untuk tidak menyerah pada keadaan dan tidak manja.
Kalau anda punya sahabat atau kenalan di Jepang, coba tanya apakah ada berita di media lokal yang memajang wajah menyerah atau tangisan dari orang Jepang? Tidak ada! Atau coba anda cari lagu-lagu ala Ebiet G Ade yang biasa diputar di saat bencana, tidak akan anda temukan. ATAU coba anda cari program amal bencana seperti Peduli Sesama atau Dompet Peduli di Jepang, tidak akan anda temui!
Benar kita harus bercermin pada Jepang.
Dalam bencana yang hebat inipun, bantuan Jepang untuk pembangunan MRT di Jakarta tidak dihentikan, malah kemaren saya mendapat email dari KEMENPORA bahwa program pertukaran yang saya ikuti tahun lalu akan dibuka lagi pendaftarannya. Sungguh saya salut pada Jepang.

Satu hal lagi yang saya belajar selama di Jepang adalah kedisiplinan mereka. Sungguh saya malu dengan kebiasaan jam karet yang begitu melekat dengan bangsa kita. Saya teringat ketika mengikuti "morning assembly" dan upacara bendera di atas kapal pesiar Fuji Maru-Tokyo. Kami diwajibkan sudah hadir di tempat upacara pada pukul 7.30 karena upacara harus dimulai tepat waktu. Saya ingat yang sering terjadi bukanlah keterlambatan melainkan kami menunggu kapan upacara dimulai. Waktu itu kami sudah hadir setengah jam sebelum upacara dimulai namun upacara tidak dimajukan namun tetap komit pada waktu yang ditetapkan. Bisa anda bayangkan betapa pegalnya kaki kami waktu itu. Namun disiplin seperti itu telah membawa Jepang ke titik puncak kejayaan mereka.

Biarlah Jepang menjadi inspirasi bagi kita semua.

Gambate Nihon!!! Ayo bejuang Jepang!!!

-Jack Loloin-

GBU

3/15/2011

HIS BLOOD CLEANSE ME

HIS BLODD

THE WAY

HEART

YES I AM A CHRISTIAN
BOANERGES

BIG SPIRIT

APA LOE LIAT-LIAT

ALIEN

MERRY HEART

1/22/2011


A man came home from work late again, tired and irritated, to find his 5 year old son waiting for him at the door. "Daddy, may I ask you a question?"

"Yeah, sure, what is it?" replied the man.

"Daddy, how much money do you make an hour?

"That's none of your business! What makes you ask such a thing?" the man said angrily.

"I just want to know. Please tell me, how much do you make an hour?" pleaded the little boy.

"If you must know, I make $20.00 an hour."

"Oh," the little boy replied, head bowed. Looking up, he said, "Daddy, may I borrow $10.00 please?"

The father was furious. "If the only reason you wanted to know how much money I make is just so you can borrow some to buy a silly toy or some other nonsense, then you march yourself straight to your room and go to bed. Think about why you're being so selfish. I work long, hard hours everyday and don't have time for such childish games."

The little boy quietly went to his room and shut the door. The man sat down and started to get even madder about the little boy's questioning. How dare him ask such questions only to get some money.

After an hour or so, the man had calmed down, and started to think he may have been a little hard on his son. Maybe there was something he really needed to buy with that $10.00, and he really didn't ask for money very often. The man went to the door of the little boy's room and opened the door. "Are you asleep son?" he asked.

"No daddy, I'm awake," replied the boy.

"I've been thinking, maybe I was too hard on you earlier," said the man. "It's been a long day and I took my aggravation out on you. Here's that $10.00 you asked for."

The little boy sat straight up, beaming. "Oh, thank you daddy!" he yelled. Then, reaching under his pillow, he pulled out some more crumpled up bills. The man, seeing that the boy already had money, started to get angry again. The little boy slowly counted out his money, then looked up at the man.

"Why did you want more money if you already had some?" the father grumbled.

"Because I didn't have enough, but now I do," the little boy replied.

"Daddy, I have $20.00 now. Can I buy an hour of your time?"

Share some time with those who need you.
They need our time more then we will ever know.

I once made a remark about the hidden books of the Bible. It was a lulu, kept people looking so hard for facts, and for others it was a revelation. Some were in a jam, especially since the names of the books are not capitalized, but the truth finally struck home to numbers of readers. To others, it was a real job. We want it to be a most fascinating few moments for you. Yes, there will be some really easy ones to spot. Others may require judges to help them. I will quickly admit it usually takes a minister to find one of the 17, and there will be loud lamentations when it is found. A little lady says she brews a cup of tea so she can concenrate better. See how well you can compete. Relax now, for there really are the names of 17 books of the Bible in these sentences. (One preacher found 16 books in 20 minutes. It took him three weeks to find the seventeenth one.)

Submitted by Scott Quinn

Popular Posts

Edited by Jack Loloin. Diberdayakan oleh Blogger.

Author Info

Cari Blog Ini

Like This Theme

featured Slider

About Me

Hi, I am the author Elegance Blog.This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style.

Like us

Facebook

About me

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Praesent non leo vestibulum, condimentum elit non, venenatis

eros.

Kontributor

Contact us

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Categories

Our Team

Slider (Add Label Name Here!) (Documentation Required)

I am the Author



Video of the Day

Sponsor

y