Media modern penuh dengan cerita tentang orang-orang
Palestina, penderitaan mereka, dilema dan perjuangan mereka.
Semua aspek kehidupan mereka tampaknya telah diletakkan
di bawah mikroskop. Hanya satu pertanyaan yang sepertinya tidak pernah ditangani: Siapa orang-orang
Palestina ini? Siapakah mereka yang mengaku Tanah Suci sebagai milik mereka? Apa sejarah
mereka? Dari mana mereka datang? Bagaimana mereka tiba di negeri yang mereka sebut Palestina?
Kesan umum yang diberikan di media adalah bahwa orang-orang Palestina telah tinggal di Tanah Suci selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Tidak heran, kemudian,
bahwa jajak pendapat baru-baru ini warga Perancis menunjukkan bahwa secara mayoritas mereka percaya (secara palsu) bahwa sebelum berdirinya Negara Israel, sebuah negara Arab Palestina merdeka
telah
ada di sana.
Namun anehnya, ketika diminta untuk memberikan sejarah bangsa
ini, kebanyakan
kantor berita hanya bisa menoleh ke belakang ke awal seribu sembilan ratusan. CNN, sebuah lembaga yang telah
mengabdikan berjam-jam airtime
untuk penderitaan rakyat Palestina, memiliki situs web yang memiliki
bagian khusus tentang konflik Timur
Tengah yang disebut “Perjuangan Untuk Perdamaian”
Termasuk bagian yang terdengar menjanjikan berjudul “Lands Through The Ages” yang meyakinkan kita bahwa
artikel itu akan secara detail
mengungkap sejarah daerah
itu dengan
menggunakan peta. Anehnya, ternyata, peta yang
ditampilkan memiliki penanggalan yang tidak lebih dari
awal 1917. Website CBS News memiliki bagian
latar belakang yang disebut “Perjuangan Untuk Perdamaian Timur Tengah” Waktu Sejarahnya dimulai tidak lebih awal dari 1897. Di The NBC News pada bagian latar belakang yang disebut “Mencari Perdamaian” juga mencatat waktu yang dimulai pada 1916. Sedangkan menurut waktu BBC, Sejarahnya dimulai pada tahun 1948.
Namun, pemastiannya
sendiri harus dari website
Nasional Resmi Palestina sendiri, bukan? Meskipun berat dengan frasa seperti "pendudukan Israel" dan pelanggaran
hak asasi manusia oleh Israel, situs ini secara praktis tidak menawarkan apa-apa tentang sejarah bangsa
yang disebut Palestina. Satu-satunya artikel di situs ini
yang mengandung konten sejarah adalah
Sejarah Palestina - Milestones abad ke-20 yang tampaknya hanya
untuk mengkonfirmasi bahwa sebelum tahun 1900 tidak ada konsep tentang
Rakyat Palestina.
Sementara media
modern mungkin kurang pada informasi tentang sejarah rakyat Palestina, tidak
demikian dengan catatan sejarah. Buku,
seperti Battleground oleh Samuel Katz dan Time
Immemorial oleh Joan Peters pada
masa lalu telah merinci sejarah
daerah
tersebut. Jauh
dari gambaran tentang apa yg dikatakan bahwa tanah itu telah ditempati oleh
Palestina selama ratusan, bahkan ribuan tahun, Tanah Israel, menurut puluhan pengunjung
ke tanah, itu, sampai awal abad terakhir, hampir kosong. Alphonse de Lamartine mengunjungi
tanah itu pada
tahun 1835 Dalam bukunya, Kenangan Timur, ia menulis "Di luar gerbang
Yerusalem kami tidak
melihat ada objek hidup, ataupun mendengar ada suara tanda kehidupan.”
Juga
seorang penulis terkenal dari Amerika, Mark Twain, yang mengunjungi Tanah Israel pada tahun 1867, menegaskan hal ini. Dalam bukunya Innocents Abroad ia
menulis, sebuah kehancuran ada di sini bahkan tidak sebuah imajinasipun dapat meramaikannya dengan kemegahan hidup dan tindakan. Kami
mencapai Tabor dengan aman. Kami
tidak pernah melihat seorang manusiapun di seluruh perjalanan. Bahkan Konsul
Inggris di Palestina melaporkan, pada tahun 1857, negara ini ada di tingkat yang cukup kosong penduduk, dan
oleh karena itu kebutuhan utamanya adalah memiliki penduduk.
Bahkan, menurut Ottoman Turk, angka sensus resmi 1882, di seluruh
Tanah Israel, hanya ada 141.000 Muslim, baik
Arab dan non-Arab.
Jumlah ini naik hingga 650.000 orang Arab pada 1922, terjadi peningkatan 450% hanya dalam kurun
waktu 40 tahun. Pada 1938 jumlah
itu menjadi lebih dari 1 juta atau
meningkat 800% hanya dalam
waktu
56 tahun. Pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi di daerah di mana orang Yahudi tinggal. Dari mana semua orang Arab ini berasal? Menurut orang-orang Arab peningkatan besar dalam jumlah mereka adalah karena melahirkan normal. Pada tahun 1944, misalnya, mereka menyatakan bahwa peningkatan alami (kelahiran dikurangi kematian) orang
Arab di Tanah Israel adalah
luar biasa dari 334
per 1.000.
Dengan demikian menjadikan angka tersebut sekitar tiga kali lipat, jumlah
yang sama untuk tahun yang sama
Lebanon dan Suriah dan hampir empat kali lipat dari Mesir, yang
dianggap salah satu Negara yang
memiliki angka yang
tertinggi di dunia.
Tidak mungkin, Jika peningkatan besar-besaran bukan karena kelahiran alami, maka dari mana semua orang Arab ini
berasal?
Semua bukti menunjuk ke negara-negara
tetangga Arab, seperti Mesir, Suriah, Lebanon dan Yordania. Pada tahun 1922 Gubernur Inggris di Sinai mencatat bahwa imigrasi
ilegal tidak hanya terjadi dari Sinai,
tetapi juga dari Yordan dan Suriah. Pada tahun 1930, laporan dari British Mandate-sponsored, Hope-Simpson mencatat bahwa daftar pengangguran membengkak oleh karena imigran dari Trans-Jordania dan imigrasi ilegal
melalui Suriah dan di seluruh perbatasan utara Palestina.
Orang-orang Arab sendiri menjadi
saksi tren ini. Misalnya, gubernur distrik Suriah
Hauran, Tewfik Bey
el Hurani, mengakui
pada tahun 1934 bahwa dalam satu periode hanya beberapa bulan, lebih dari 30.000 orang Suriah dari Hauran telah pindah ke Tanah
Israel. Bahkan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill mencatat
masuknya Arab. Churchill, seorang veteran pada awal tahun mandat Inggris di Tanah Israel, mencatat pada tahun 1939 bahwa
jauh dari seperti yang dikatakan mereka dianiaya, orang-orang Arab telah memadati negeri
itu dan bertambah banyak.
Jauh dari gambaran
pemberitaan tentang penggusuran orang-orang Arab, seperti yang mereka (orang-orang
arab) nyatakan, orang-orang Yahudi adalah justru
alasan orang-orang Arab memilih untuk menetap di Tanah
Israel. Penyediaan
lapangan kerja oleh industri
Zionis dan pertanian yang baru didirikan memikat mereka di sana, sebagaimana konstruksi dan industri Israel zaman
sekarang menyuplai sebagian besar orang Arab di Tanah Israel
dengan sumber utama pendapatan mereka saat ini.
Malcolm MacDonald, salah satu penulis utama dari White Paper Inggris
1939, yang membatasi imigrasi Yahudi ke Tanah Israel, mengakui (secara konservatif) bahwa kalau bukan karena kehadiran Yahudi penduduk Arab akan menjadi lebih sedikit dari setengah dari jumlah
sebenarnya. Hari ini, karena
intifada terbaru, orang-orang Arab di bawah 35 tidak lagi diizinkan
- sampai masuk ke pra-1967 Israel- untuk bekerja, pengangguran telah meroket
sampai lebih dari 40%
dan sebagian besar bergantung pada
paket bantuan Eropa
untuk bertahan hidup.
Tidak hanya orang-orang
pada masa pra-negara Arab berbohong
tentang bagaimana
mereka menjadi orang
pribumi. Bahkan saat ini, banyak tokoh besar
yang menyebut diri orang Palestina, ternyata adalah orang asing yang lahir di luar. Edward Said, seorang Profesor di
Ivy League bidang Sastra dan propagandis utama Palestina, cukup
lama diklaim dibesarkan di Yerusalem. Namun, dalam sebuah artikel tentang
masalah seputar September 1999 Commentary
Magazine, Justus Reid Weiner mengungkapkan bahwa
Said sebenarnya dibesarkan di Kairo, Mesir, ini
sebuah fakta yang kemudian diakui oleh Said sendiri. Tapi mengapa harus memusingkan soal Said? Pimpinan PLO (Palestine Liberation Organization) Yasir Arafat sendiri, yang mengangkat dirinya sendiri sebagai
pemimpin rakyat Palestina, selalu diklaim lahir dan
dibesarkan di Palestina. Ternyata, menurut penulis biografi resminya, Richard Hart, serta BBC, Arafat lahir di Kairo
pada tanggal 24 Agustus 1929 dan di sanalah ia dibesarkan.
Untuk menjaga sandiwara
sebagai penduduk pribumi, propagandis Arab harus melakukan
lebih dari sekedar penulisan ulang sejarah. Sebagian besar penulisan ulang ini
melibatkan penggantian nama geografi. Selama dua ribu tahun wilayah di
pegunungan tengah Israel dikenal sebagai Yudea dan Samaria,
sebagaimana
yang tertulis pada peta
abad pertengahan. Namun, negara Yordania menduduki
daerah ini pada
tahun 1948 dan menamainya Tepi Barat. Ini adalah nama yang lucu untuk daerah yang
benar-benar terletak di bagian timur negeri itu dan hanya dapat disebut Barat jika
mengacu ke Yordania. Hal ini tampaknya tidak menggelitik
bagi sebagian besar kantor berita yang meliput wilayah itu,
mereka secara universal merujuk ke wilayah tersebut dengan
nama Yordania yang baru.
Istilah “Palestinian”
(Orang Palestina) sendiri merupakan hasil dari kepiawaian mereka memutar sejarah. Untuk
menggambarkan diri mereka sebagai masyarakat
pribumi, pemukim Arab
mengadopsi nama suku
Kanaan kuno, Phillistines
(Filistin), yang
sudah
mati hampir 3000
tahun yang lalu. Bukti hubungan antara suku ini dan
orang Arab modern
adalah nihil. Siapa yang tahu bedanya?
Mengingat tidak adanya catatan sejarah, kita dapat mengerti mengapa Yasser
Arafat mengklaim bahwa Yesus Kristus, seorang tukang kayu Yahudi dari Galilea, adalah
orang
Palestina. Setiap tahun, pada
waktu Natal, Arafat pergi ke
Betlehem dan memberitahu jamaah bahwa Yesus
pada kenyataannya adalah
orang Palestina pertama.
Jika sejarah
Palestina memang mitos, maka pertanyaan yang sebenarnya adalah, Mengapa? Mengapa menciptakan rakyat fiktif? Jawabannya adalah bahwa mitos Rakyat
Palestina berfungsi sebagai pembenaran untuk pendudukan Arab di Tanah Israel. Sementara orang-orang Arab telah
memiliki 21 negara berdaulat mereka sendiri (lebih dari Negara
manapun di bumi) dan memiliki tanah yang
ukurannya 800 kali ukuran Tanah
Israel, hal ini tampaknya tidak cukup bagi mereka. Oleh karena itu mereka merasa
perlu untuk merampok orang-orang Yahudi dari satu-satunya negara mereka, yang
adalah salah satu
negara yang terkecil di planet ini. Sayangnya,
banyak orang tidak tahu tentang sejarah daerah itu, termasuk banyak media dunia, mereka
hanya terlalu bersedia untuk membantu.
Sangat menarik untuk dicatat bahwa Alkitab ternyata sudah menulis referensi tentang sebuah negara fiktif yang akan menghadapi Israel. Mereka
membangkitkan cemburu-Ku e dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan
sakit hati-Ku dengan berhala f mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan
cemburu mereka dengan yang bukan umat (bukan sebuah bangsa), dan akan menyakiti
hati mereka dengan bangsa yang bebal (Ulangan 32:21).






