Enter Slide 1 Title Here

Enter Slide 2 Title Here

Enter Slide 3 Title Here

9/21/2009


Lesson Narrative

Kehancuran Manusia
Contoh-contoh apa saja dari kehancuran manusia yang telah anda lihat, dengar, atau anda jumpai minggu ini? Masalah-masalah fisik apa saja yang telah anda lihat? Apakah itu sakit-penyakit, kematian, atau kemiskinan? Masalah-masalah rohani apa yang telah anda jumpai? Apakah itu roh-roh jahat, penyembahan berhala, atau korupsi? Masalah-masalah sosial apa yang anda perhatikan? Apakah itu hubungan pribadi yang telah hancur? Apakah itu ketidakadilan sosial? Hal-hal apalagi? Bukti-bukti dari kehancuran telah tersebar di mana-mana! Ketika kita membaca koran, menonton siaran televisi , atau melihat apa saja yang telah terjadi di sekeliling kita, kita melihat banyak, bahkan terlalu banyak contoh-contoh kehancuran.

Roma 1:21 membantu kita untuk mengerti kehancuran dari ras manusia:

Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.

Ayat-ayat ini melukiskan gambaran yang sangat dingin dari manusia yang telah hancur. Gambaran ini sangat berbeda dengan yang kita lihat dalam Kejadian 1:31, ketika Allah melihat ciptaan-Nya dan mengatakan bahwa apa yang telah diciptakan-Nya adalah baik. Tetapi pada pasal-pasal berikutnya, dalam Kejadian 6:6, Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Allah menyesal dan bersedih karena Dia telah menciptakan kita! Apakah yang telah mengubah penilaian Allah? Adalah ketidaktaatan—manusia tidak lagi hidup sesuai dengan tujuan Allah bagi mereka.

Hal ini adalah benar adanya—dan hal ini tidak hanya terjadi dalam Kitab kejadian. Sepanjang kita menelusuri Alkitab, kita mendapati banwa manusia-manusia ciptaan Allah telah memberontak melawan kehendak-Nya. Jika saja kita mau jujur terhadap diri kita sendiri, kita akan mengetahui bahwa inilah yang terjadi terhadap keadaan manusia akhir-akhir ini. Kita tidak taat. Kita tidak lagi hidup sesuai rancangan dan panggilan yang Allah telah tetapkan bagi hidup kita.

Kedaan manusia tanpa Allah adalah tidak berpengharapan. Kita dapat melihatnya dengan memandang ke sekeliling kita atau membaca berita-berita—dan Kitab Suci juga telah memberitahukannya kepada kita. Kejadian 6:5 mengatakan kepada kita bahwa kecenderungan hati manusia adalah kejahatan. Roma 3:2 mengingatkan kita bahwa kita semua telah berdosa dan menyimpang dari kehendak Allah. Efesus 2:1 berkata bahwa kita sudah mati—tidak berpengharapan karena adanya dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran kita tanpa adanya Allah. Pada akhirnya, Roma 2:5 mengatakan kepada kita bahwa, tanpa adanya campur tangan Allah, kita akan diperhadapkan kepada murka-Nya.

Ketika mengajarkan pelajaran ini, kita melihat pada Kitab Suci ini kemudian kita minta kepada para peserta untuk berbagi dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok-kelompok kecil ini mengambil sebuah kertas, dan menggambar pada setengah bagian bawah kertas tersebut suatu gambaran yang mewakili keadaan manusia tanpa Allah. Kita mendorong mereka untuk berpikir secara kreatif. Kita harus benar-benar mengerti sepenuhnya sifat-sifat manusia yang telah hancur. Bagaimanakah anda menggambarkan keadaan manusia yang telah hancur tanpa Allah?

Ya, keadaan umat manusia tanpa Allah adalah sangat hancur dan benar-benar menderita—tetapi allah tidak mau kita untuk tetap tinggal dan berdiam diri dalam keadaan seperti itu. Dalam Yohanes 3:17, kita mempelajari bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan, bukan untuk menghakimi orang-orang yang telah hancur. Filipi 2:5-11 mengingatkan kita bahwa Kristus adalah hamba yang bersedia untuk mengosongkan diri-Nya sendiri dan bersedia datang untuk mati mewakili orang-orang yang telah hancur. Allah kita luar biasa. Dia punya rencana untuk menebus kehancuran kita. Sangat jelas bahwa hal ini merupakan kabar yang sangat baik bagi semua umat manusia.



Tujuan Allah untuk Masa Depan

Kitab Suci juga menegaskan bahwa Allah punya rencana yang indah untuk masa depan. Dalam Yesaya 11:4-9, ada suatu penglihatan yang penuh kedamaian. Dalam Yesaya 61:1-4, telah dikatakan bahwa kita juga turut berperan serta dalam pemulihan semua ciptaan-Nya. Dalam Yohanes 14:1-4, kita mendengar bahwa Yesus telah pergi untuk menyediakan suatu tempat bagi kita. Roma 8:21 meyakinkan kita bahwa semua ciptaan-Nya akan dimerdekakan dari ikatan-ikatan yang muncul pada saat kejatuhan manusia. Dalam Wahyu 21:1-4, kita membaca suatu masa depan yang sangat indah—tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi air mata, dan tidak ada lagi sakit-penyakit. Pada akhirnya, Matius 19:28 mengatakan kepada kita bahwa Yesus akan kembali sebagai Raja. Allah punya rencana untuk masa depan, dan masa depan itu jauh lebiih baik dari apapun yang dapat kita bayangkan!

Saat mengajarkan pelajaran ini, setelah kita melihat ke dalam Kitab Suci, para peserta diminta untuk kembali kepada kelompok kecil mereka untuk menggambarkan apa yang telah mereka lihat dalam Kitab Suci menyangkut rencana Allah untuk masa depan. Saat mengembalikan kertas tersebut dengan gambaran yang pertama, pada bagian atas kertas tersebut, para peserta menggambar ilustrasi lain yang mewakili apa yang ayat-ayat ini katakan tentang tujuan Allah untuk masa depan. Apakah yang akan anda gambar? Banyak klompok telah menghasilkan ilustrasi yang sulit untuk dimengerti untuk menggambarkan tujuan Allah untuk masa depan. Sebuah ilustrasi yang sederhana untuk ini yaitu sebuah oval tiga dimensi, yang mengandung kata-kata ini yang menggambarkan rencana Allah untuk masa depan—Tak Ada Kematian, Perdamaian, Kelimpahan, dan Allah Tinggal Bersama-sama dengan Kita.

Ilustrasi yang lengkap ini menitikberatkan pada dua hal yang berlawanan antara keadaan manusia yang hancur tanpa Allah dan tujuan Allah yang indah untuk masa depan. Dalam keadaan kita yang hancur, setiap kecenderungan hati manusia adalah jahat, semuanya telah berdosa dan menyimpang dari kehendak Allah. Manusia, tanpa Allah, tidak mempunyai pengharapan sama sekali. Bahkan dalam kenyataannya, manusia yang tidak mau bertobat akan diperhadapkan pada murka Allah.

Tetapi . . . Allah mengutus Yesus untuk menyelamatkan kita, bukan untuk menghukum kita. Akan ada perdamaian dan kelimpahan. Kita akan turut berperan serta dalam pemulihan semua hal-hal yang telah hancur. Yesusu sedang mempersiapkan sebuah tempat bagi kita. Suatu saat nanti semua ciptaan akan dimerdekakan sepenuhya dari kehancurannya. Allah tidak hanya mengasihi orang-orang yang diciptakan-Nya, tetapi tujuan–Nya untuk masa depan adalah memulihkan semua ciptaan-Nya. Ciptaan Allah yang telah hancur sekarang ini suatu saat akan dibebaskan sepenuhnya dari ikatannya, dan Roma 8:19-20 mengatakan kepada kita bahwa kebebasan ini akan dihubungkan dengan “kebebasan yang berkemenangan” dari anak-anak Allah. Tidak akan ada lagi kematian, sakit-penyakit, atau air mata. Yesus akan kembali sebagai Raja Di Atas Segala Raja ! Bangsa-bangsa akan melihat, tinggal di dalam, dan menikmati berkat-berkat dari kemuliaan Allah. Wahyu 21:24 mengatakan kepada kita bahwa “ bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi mambawa kekayaan mereka kepadanya.” Rencana Allah mencakup pemulihan dari orang-orang yang telah hancur dan ciptaan yang telah hancur, termasuk bangsa-bangsa !


Apakah ini merupakan kabar baik ? Ya, ini merupakan kabar yang sangat indah ! Tetapi bagaimana sikap kita menanggapi kabar baik ini merupakan hal yang paling penting. Kita dapat hidup di bawah awan gelap kehancuran dan menunggu kelepasan di masa depan – atau kita dapat berperan serta dalam visi Allah untuk masa depan.

Berikut ini adalah sebuah cerita yang menggambarkan hal yang telah diuraikan di atas. Beberapa tahun yang lalu, Bob Moffitt sedang mengunjungi Lima, Peru. Beliau bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Rudy. Rudy baru-baru saja menjadi seorang percaya, dan hidupnya telah benar-benar diubahkan secara drastis. Rudy seorang pemuda yang mempunyai standar kehidupan kelas menengah, tetapi ia mempunyai rasa belas kasihan terhadap orang-orang yang miskin, dan dia benar-benar ingin membagikan kabar baik yaitu Injil ini, dengan mereka.

Rudy memutuskan untuk melakukan sesuatu, jadi suatu hari dia naik bus dan pergi ke daerah kumuh di perbatasan Lima, membawa satu kantong yang penuh berisi traktat-traktat. Dia turun dari bus dan berjalan menuju seorang pria muda yang pertama dilihatnya. Rudy berkata, “Halo, saya Rudy. Siapa namamu?” Pria muda itu menjawab, “Saya Juan.” Rudy bertanya, “Apa yang anda sedang lakukan di sini?” Juan berkata: “Saya seorang pengangguran. Saya tidak punya pekerjaan. Saya lapar. Saya punya banyak sekali masalah.” Rudy mengambil sebuah traktat dari kantongnya dan berkata, “Ini! Traktat ini akan memberikan anda jawaban dari semua masalah anda.” Pria muda itu berkata, “Saya tidak membutuhkan traktatmu. Saya tahu isi traktat itu. Traktat itu berbicara tentang Yesus. Saya tidak membutuhkan Yesusmu!” Rudy menjawab, “Tetapi Yesus sanggup menyelesaikan masalahmu! Yesus mau anda untuk bersama-sama dengan Dia untuk selama-lamanya.” Juan berkata, “Saya membutuhkan roti sekarang.” Rudy berkata kepada Juan, “Yesus adalah roti kehidupan! Bacalah traktat ini. Traktat ini benar-benar dapat membantumu.”Akhirnya, Juan berkata, “Saya akan menunjukkan kepada anda apa yang saya pikirkan mengenai Yesus.” Dia mengambil sebuah traktat, merobeknya menjadi potongan-potongan kecil, dan menaruhnya di dalam mulutnya. Sementara Rudy tersentak melihatnya, Juan perlahan-lahan mengunyah dan menelan traktat itu. Dia berkata kepada Rudy, “Saya berkata kepadamu! Saya tidak membutuhkan Yesusmu. Saya membutuhkan roti!”

Pada saat Rudy mengatakan kepada Bob cerita ini, air mata bercucuran dari wajahnya. Dia berkata, “Saya sadar saya tidak akan pernah memberitakan tentang Yesus kepada mereka yang miskin kecuali saya juga dapat memberikan roti kepada mereka.” Jadi Rudy bekerjasama teman-temannya, membuka sebuah toko roti. Mereka menjual roti. Dengan keuntungan yang mereka peroleh, mereka membawa roti ke daerah kumuh. Mereka membagi-bagikan roti itu sambil menceritakan tentang Yesus. Saya rasa Juan mempunyai sebuah pesan yang perlu didengar oleh banyak orang. Dunia telah hancur, benar-benar hancur. Dan orang-orang yang telah hancur ini berkata, “Saya tahu kalau anda punya kabar baik tentang masa depan – tetapi tidakkah ada kabar yang lebih baik untuk saya, sekarang juga?”

Ya, tentu saja ada! Dosa telah menghalangi tujuan baik Allah bagi dunia ini, tetapi rencana Allah adalah untuk membangun kembali seutuhnya tujuan-Nya. Pemulihan masa depan tetap akan kita nantikan, tetapi tetap ada alasan-alasan yang ditawarkan untuk pemulihan dan pembangunan yang kuat di masa sekarang ini. Allah memanggil umat-Nya sebagai bukti masa kini dari kebangkitan Kristus di masa akan datang. Pemulihan sepenuhnya akan mengikuti kedatangan Yesus kembali — tetapi sekarang — anak-anak Allah akan diberi beban suatu tanggung jawab untuk membawa kehendak-Nya “di bumi seperti di surga” – untuk memperluas kerajaan-Nya di bumi dan “mempekerjakan” wilayah tersebut sampai Dia datang kembali.

Allah telah memberikan kepada orang-orangNya kesempatan untuk berperan serta dalam tujuan yang terpenting dalam sejarah. Allah mengizinkan kita untuk menjadi pemimpin. Tindakan kita akan mempunyai pengaruh yang kekal. Tidak ada tindakan yang kita lakukan yang bersesuaian dengan kehendak-Nya yang merupakan hal yang tidak berharga. Janda yang telah memberikan dua keping koin di bait Allah tidak pernah membayangkan bahwa tindakannya akan membawa pengaruh bagi banyak orang 2000 tahun kemudian. Kita juga, akan membawa pengaruh yang akan menjangkau sampai ke generasi masa depan, juah melampaui apa yang dapat kita bayangkan atau yang kita lihat pada saat ini. Jika jemaat gereja dapat mengerti akan adanya hubungan antara kehidupan mereka dengan tujuan Allah yang indah untuk umat manusia — baik pada masa sekarang maupun masa akan datang — mereka akan dapat melihat bahwa tidak ada masalah sebesar apapun yang dapat menghalangi hidup atau mati mereka.


Semua bagian dari ciptaan Allah mencerminkan kemuliaan-Nya, tetapi Dia menempatkan cerminan-Nya yang termulia – gambaran-Nya – di dalam kita! Pada saat Dia menciptakan manusia, Allah berkata, ”Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26). Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kejadian 1:27).


Diciptakan Serupa Gambaran Allah

Keunikan dari membawa gambaran Allah mempunyai pengertian yang mengejutkan. Karena gambaran Allah ada di dalam kita, kita dilibatkan dalam proses pemulihan “segala sesuatu” (Kolose 1:20) dan dalam proses pengenalan berbagai ragam hikmat Allah melalui jemaat (Efesus 3:10). Kita juga membawa karakteristik dari gambaran-Nya di dalam kita. Kreatifitas Allah dicerminkan dalam kemampuan kita membuat sesuatu yang baru, untuk merencanakan masa depan, untuk membawa peraturan/tata tertib untuk mengatasi keributan/kekacauan, dan untuk bekerja seperti yang Allah telah lakukan dan kerjakan. Dengan kemampuan tata bahasa kita, kita dapat mengkomunikasikan gagasan-gagasan dan sesuatu yang tidak jelas melalui kata-kata kita. Kita adalah mahluk sosial, kita tahu bagaimana membangun suatu hubungan yang mempunyai maksud dan tujuan yang berguna dengan orang-orang, alam, dan pekerjaan. Kita telah diberikan pilihan moral, yang tidak diberikan kepada binatang dan alam; kita mempunyai kemampuan untuk melihat dan memilih antara sesuatu yang membangun atau menghancurkan, antara keindahan dan ketidakindahan. Dan kita mempunyai kemampuan untuk bertindak dengan tujuan yang tidak mementingkan diri sendiri tetapi bagi kepentingan orang lain: pelayanan yang rela berkorban.

Pelayanan yang disertai unsur kasih dan pengorbanan – karakteristik terakhir – merupakan tanda yang penting dari gambaran Allah. Mengapa? Karena tanpa adanya karakter kasih dan pengorbanan, sifat-sifat yang lain dapat menjadi jahat. Kita mempunyai banyak contoh di dunia ini; kreativitas telah disalahgunakan untuk menghasilkan bom atom. Kemampuan tata bahasa kita telah menghasilkan pornografi. Hubungan kita dapat berubah menjadi kekejaman. Pilihan moral telah digunakan untuk menyesuaikan pembersihan suku dan mendukung aborsi.


Diciptakan untuk Pelayanan

Allah bertujuan agar orang-orang menggunakan sifat-sifat dari-Nya dalam hubungannya dengan pelayanan, tetapi – sejak Adam dan Hawa menjadi pembohong mula-mula – orang-orang telah mengalihkan sifat-sifat tersebut untuk keuntungan pribadi dan telah menyimpang dari gambaran Allah. Roma 1:22-32 secara grafik menjelaskan apa yang terjadi ketika orang-orang menukar gambaran Allah yang kekal untuk sebuah gambaran yang jahat: Masyarakat kita penuh dengan hubungan seksual yang tidak murni dan penyembahan kepada mahluk-mahluk tertentu daripada Pencipta-Nya. Kita cenderung untuk iri hati, membunuh, berselisih, menipu, penuh dengki, bergosip, dan menghujat. Ada kebencian yang tetap terhadap Allah, kecongkakan, tinggi hati, suka membual, motivasi yang jahat, dan ketidaktaatan; hidup dengan cara yang tidak berperasaan, tidak setia, tidak mempunyai hati, dan kejam. Dan kita lebih cenderung untuk bersikap setuju terhadap mereka yang melakukan hal-hal yang sama daripada hidup dalam kehidupan yang lebih baik menurut tujuan yang Allah telah tetapkan bagi kita. Kita telah menjadi orang-orang yang bodoh.

Dalam Perjanjian Lama, orang-orang tidak dapat mengerti sepenuhnya apa maksud dari membawa gambaran Allah – terutama sifat-sifat dari pelayanan yang disertai dengan kasih dan pengorbanan. Meskipun demikian, di dalam Perjanjian Baru, Allah mengungkapkan gambaran-Nya di dalam dua cara – di dalam Yesus dan di dalam jemaat.

Pada saat yang telah ditetapkan, Allah mengutus anak-Nya, gambaran yang lengkap dan sempurna dari Allah (Ibrani 1:1-3b). Untuk pertama kalinya, orang-orang dapat melihat seperti apa Allah itu. Mereka tidak hanya dapat melihat dalam gambaran-Nya sebagai Allah, tetapi juga sebagai manusia seperti yang telah menjadi tujuan Allah – manusia yang menjadi teladan yang sempurna sesuai dengan tujuan penciptaannya , yaitu diciptakan menurut gambar Allah. Sekarang, ketika kita melihat kepada Yesus, kita melihat sifat-sifat Allah yang paling penting dari gambaran Allah. Kita melihat lebih daripada kerohanian yang sempurna, stamina secara fisik dan kekuatannya sebagai tukang kayu, hikmat yang melebihi orang-orang Farisi, dan ketrampilan dalam membangun hubungan-hubungan yang membuat orang-orang mengasihi-Nya karena kerendahan hati dan dengan demikian membungkam orang-orang yang tinggi hati. Kita melihat di dalam diri Yesus segi yang paling penting dari gambaran Allah – pelayanan. Yesus menggambarkan diri-Nya sesuai dengan tujuan-Nya, “Anak manusia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28).

Pertimbangkan juga gambaran Paulus yang begitu kuat mengenai pelayanan Yesus:

“[Yesus], yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:6-8).

Allah adalah pelayan, Dan Yesus menjadi model dari pelayanan Allah! Dalam ayat-ayat selanjutnya, kita melihat bahwa Allah memuliakan Yesus oleh karena Yesus telah menunjukkan perbuatan yang terbesar dari gambaran Allah – pelayanan sukarela dan pengorbanan.
“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, “ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:9-11).

Pelayanan juga dapat dilihat pada ayat-ayat lain. Allah berkata kepada orang-orang Israel bahwa Allah disenangkan melalui pengorbanan mereka dan pelayanan mereka bagi orang-orang yang teraniaya (Yesaya 58). Yesus berkata kepada murid-muridNya bahwa tanda yang membedakan mereka yang berada di Kerajaan Surga adalah pelayanan mereka – mereka memberi makan yang kelaparan, memberi pakaian kepada yang telanjang, dan mengunjungi mereka yang sakit dan dipenjarakan (Matius 25). Agama yang murni dan sempurna dalam arti yang singkat adalah melayani janda-janda dan yatim piatu – mereka yang membutuhkan pertolongan (Yakobus 1:27). Di ayat lain, Yesus menekankan prioritas dari mengasihi dan melayani sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri (Markus 12:31).

Sekarang Allah mengundang anak-anakNya untuk dijadikan serupa dengan gambaran Anak-Nya (Roma 8:29)—yaitu melayani. Hanya dengan melayani kita dapat memenuhi peranan yang Allah berikan kepada kita. Diciptakan dalam gambaran Allah, kita juga diciptakan untuk melayani dengan rela berkorban. Ketika kita melayani dengan rela berkorban seperti yang Yesus telah lakukan, kita sudah memenuhi sebagian besar gambaran Allah. Dan selagi kita mencerminkan gambaran dan sifat-sifat mulia Allah, Dia dipermuliakan. Allah juga mengungkapkan gambaran diri-Nya di dalam jemaat. Jemaat menyatakan kepenuhan daripada Allah: “Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Efesus 1:22-23). Jemaat, yang adalah tubuh Kristus, adalah suatu perkumpulan dari orang-orang percaya yang melayani yang membawa gambaran-Nya dan membawa rencana-Nya dengan memberikan fasilitas untuk proses lahir baru, pemuridan, melengkapi orang-orang percaya, dan mengutus orang-orang ke dalam dunia sebagai duta/wakil pelayan..

Banyak orang Kristen – terutama mereka yang mengalami kerugian secara ekonomi dan politik atau dengan kata lain, mengalami pelecehan dalam sejarah – tersinggung karenan adanya gagasan bahwa mereka seharusnya menjadi pelayan. Dalam sudut pandang mereka, pelayanan dapat menjadi sesuatu hal yang menurunkan derajat mereka dan di luar kemauan mereka. Ya, pelayanan yang diluar kemauan bisa saja menjadi perbudakan yang sama sekali palsu. Pelayanan yang di luar kemauan dapat menjadi suatu tindakan yang menurunkan derajat, karena alasan kesulitan ekonomi. Dan dapat menjadi pelayanan yang dipaksakan apabila orang-orang yang mempunyai kuasa tidak bersedia melakukannya. Tetapi ini bukanlah kemauan, pelayanan yang rela berkorban yang dimaksud oleh Alkitab. Ini bukanlah gambaran Allah yang merupakan hak asasi dari anak-anakNya.

Allah tidak memerintahkan pelayanan hanya karena kepentingannya sendiri, tetapi karena pelayanan menyatakan dan merupakan motivasi dari sifat-Nya yang terbesar – Kasih. Kasih tidak didaftar sebagai ungkapan dari gambaran Allah karena kasih dari Allah sebagian besar dicerminkan melalui jemaat dan orang-orang di dalam jemaatnya yang mereka layani. Bahkan pada kenyataannnya, Yohanes bertanya bagaiman kasih Allah bisa ada di dalam diri seseorang apabila dia berkata bahwa dia mengasihi tetapi dia tidak menaruh belas kasihan terhadap saudara yang sedang membutuhkan (1 Yohanes 3:17). Allah begitu ingin memenuhi kita dengan kasih-Nya sehingga para penonton akan mengetahui bahwa kasih yang kita nyatakan kepada mereka adalah kasih Allah. Kitab Suci menunjukkan kepada kita bahwa cara-cara dasar/prinsip bagi kita untuk menunjukkan kasih Allah adalah dengan mengasihi sesama (Lukas 10, Yesaya 58, Yakobus 1, Yakobus 2, 1 Yohanes 3). Seharusnyalah kita tidak pernah mengurangi kesadaran kita akan rencana Allah, di mana kita yang adalah Tubuh Kristus, merupakan perangkat utama, di mana melalui kita kuasa yang mengubahkan hidup dari Allah dapat disalurkan!.

Kasih dan pelayanan yang rela berkorban mungkin merupakan karakteristik yang paling sulit dari gambaran Allah. Mengapa? Melayani orang lain seperti Kristus berarti menyerahkan hak-hak dan posisi kita. Hal itu berarti bahwa kita rela menyangkali diri kita sendiri demi orang lain. Melayani seperti Yesus melayani merupakan hal yang mustahil untuk diterima oleh Roh Kudus-Nya yang berdiam di dalam kita, tetapi melayani seperti Kristus melayani adalah hal yang mungkin. Bukan hanya mungkin, pelatihan itu membuahkan hasil dalam pemenuhan dari tujuan Allah ketika kita Dia menciptakan kita dalam gambaran-Nya.

Jemaat perlu menolong orang-orangnya untuk memperoleh kembali pengertian alkitabiah mengenai pelayanan.Apakah yang harus kita lakukan apabila kita tidak menjadi pelayan dalam pengertian alkitabiah? Ketika kita melayani minat kita sendiri, kita harus beralih dan berjalan dalam arah yang lain, melayani minat orang lain. Pelayanan alkitabiah merupakan hal yang tidak mungkin tanpa adanya Kristus yang berdiam di dalam kita, tetapi merupakan hal yang mungkin melalui kuasa dari Roh Allah. Paulus mengingatkan para pembacanya bahwa Allah dan manusia saling bekerjasama untuk meraih tujuan Allah:

“…karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:12b-13).

Disiplin dan Pelatihan
Jika semua hal ini adalah benar, bagaimanakah kita dapat mencerminkan segi dari gambaran Allah ini? Satu cara adalah dengan mengembangkan apa yang Allah telah taruhkan di dalam kita. Sangat jelas bahwa mengembangkan karakter serupa dengan Kristus membutuhkan kebiasaan baru dan ketrampilan baru. Dan untuk mengembangkan kebiasaan baru dan ketrampilan baru, kita perlu pendisiplinan. Mengapa kita harus tunduk kepada pendisiplinan? Para atlit yang yang mau menjadi atlit yang profesional harus mendisiplinkan diri mereka pada jadwal yang keras dari pelatihan dan berjam-jam latihan tanpa henti. Semua murid yang mau lulus dengan nilai tertinggi di kelasnya dan mendapatkan pekerjaan yang terbaik mendisiplinkan diri mereka untuk belajar dengan keras selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, orang-orang menyerahkan diri mereka kepada pendisiplinan yang baru karena hasil yang mereka ingin capai sangat penting bagi mereka.

Dalam arti yang sama, disiplin dan pelatihan dibutuhkan untuk pertumbuhan secara kerohanian. Paulus memanggil anak disiknya yang masih muda, untuk berlatih secara rohani. “Latihan badani juga berguna, tetapi latihan rohani merupakan hal yang lebih penting dan merupakan obat penguat untuk semua hal yang anda lakukan. Dengan demikian, latihlah dirimu secara rohani dan latihlan dirimu menjadi orang Kristen yang lebih baik karena hal itu akan menolongmu bukan hanya untuk kehidupan sekarang ini, tetapi juga untuk kehidupan di masa yang akan datang” (1 Timotius 4:8, LB). Ya, disiplin membutuhkan pengorbanan dan usaha, tetapi itu merupakan hal yang baik! Merupakan hal yang baik bagi mereka yang ingin melayani, dan hal itu membawa kita lebih dekat pada apa yang menjadi maksud dan tujuan Allah menciptakan kita.


Murid Kasih
Kita mengusulkan sebuah latihan untuk membantu mendisiplinkan kita untuk menjadi lebih serupa dari segi melayani dari gambaran Allah. Pelatihan ini – yaitu Disiplin Kasih – adalah sebuah pelatihan rohani. Hal ini dirancang untuk menolong para pengikut dari Kristus berlatih dalam menunjukkan kasih Allah dalam melayani orang lain. Dengan kata lain, melatih kita untuk melayani! Pelatihan rohani lainnya, seperti berdoa, membaca Kitab Suci, merenungkan firman Tuhan, menghafal, dan berpuasa – mempunyai penekanan yang vertical (tegak lurus), memperkuat hubungan antara Allah dengan murid-muridNya. Pendisiplinan mempunyai penekanan yang horizontal (mendatar) – dengan demikian pemasukan dari kasih Allah di dalam kita yang datangnya dari tinggal di dalam Kristus dinyatakan keluar, kepada orang lain.

Pada intinya Disiplin Kasih adalah sebuah hal yang sederhana. Mereka yang menerapkannya berdoa sungguh-sungguh agar mendapatkan kesempatan untuk melayani – dan melayani! Disiplin ini membutuhkan komitmen dan sebuah hubungan yang dekat kepada Allah, agar kekuatan-Nya dapat bekerja melalui kita. Walaupun mudah dalam konsepnya, berlatih mempraktekkan disiplin ini akan mengubah kehidupan seseorang.

Disiplin Kasih juga merupakan hal yang sangat praktis. Membantu para orang-orang percaya secara pribadi untuk mencerminkan karakter Kristus sebagai hamba/pelayan dalam empat segi yang menjadi perhatian Allah (hikmat, fisik, rohani, dan sosial) di dalam dunia yang mereka tinggali (keluarga, jemaat, dan masyarakat). Kasih Allah dan tujuan-Nya dinyatakan pada saat kita melayani orang lain dalam hubungan dan segi kehidupan yang berbeda! Orang-orang yang kita layani dalam pendisiplinan ini pada umumnya adalah orang-orang yang kita kenal dan sering jumpai dalam kehidupan sehari-hari – orang-orang di dalam keluarga kita, jemaat, tempat kerja, sekolah, dan tetangga. Pelayanan kita kepada mereka bisa dilakukan dengan mudah. Kita tidak membutuhkan uang yang banyak, waktu, bakat/talenta, atau kepribadian, atau keahlian. Kita hanya perlu untuk mencerminkan gambaran Kristus dengan cara rela berkorban untuk melayani mereka. Pikirkan akibat dari orang-orang percaya yang bersedia melayani, satu persatu, dapat mengubah dunia di sekeliling mereka –dan pikirkan akibat yang ditimbulkan dari orang-orang percaya,satu persatu, yang dalam kasih dan ketaatan dapat membuat perubahan pada saat mereka melayani orang-orang yang Allah tempatkan pada jalur mereka!

Orang-orang yang berlatih Disiplin Kasih mengalami pertumbuhan dalam beberapa cara. Mereka menunjukkan kepekaan pada kebutuhan orang lain. Merka belajar untuk secara taat menanggapi kebutuhan orang lain dalam tingkah laku yang lebih luas dan seimbang. Mereka berkreativitas dalam pelayanan mereka. Kemampuan untuk menunjukkan kreativitas mereka dalam pelayanan bertujuan dan menitikberatkan pada Allah sebagai sumber dari kasih kita. Pelayanan mereka kepada orang lain disertai dengan anugrah. Dan hal yang paling penting, mereka mengalami keintiman yang lebih meningkat dengan Allah.

Murid dari Pelatihan Kasih
Disiplin Kasih menggunakan sebuah acuan untuk merekam ungkapan-ungkapan kecil kepada keluarga kita, para pengikut orang percaya, dan sesama kita yang bukan orang Kristen. Acuan tersebut memberikan kita pandangan yang lebih luas dari kesempatan untuk melayani. Sesudah itu, setiap pelayanan direkam/dicatat dalam sebuah jurnal singkat, jadi kita dapat memantulkan doa-doa kita sepenuhnya pada pelayanan kita dan dapat dipertanggungjawabkan kepada seorang penasehat atau kelompok kecil. Kita memakai peralatan dasarnya untuk merencanakan, bertindak, mencerminkan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Semoga Allah memakai Disiplin Kasih untuk menolong kita dan mereka yang kita muridkan untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus – lebih lagi mencerminkan kasih Allah, pengorbanan Allah, dan kemauan untuk melayani sama seperti Allah. Semoga hal ini dapat memperbesar kemampuan kita untuk melihat dan menanggapi kebutuhan-kebutuhan dari mereka yang ada dalam dunia kita masing-masing, dan semoga hal ini dapat menolong kita mengembangkan gaya hidup pelayanan yang mencerminkan gambaran Allah. Semoga kita dapat bertumbuh dalam keintiman dengan Bapa kita pada saat kita mengasihi orang lain dengan kuasa dan kelimpahan dari kasih-Nya di dalam kita dan ketika kita menaati perintah yang terbesar – mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran kita dengan mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri (Matius 22:36-38). Dan semoga mereka yang kita layani mengalami pengertian yang lebih baru dan lebih lengkap dari Allah dan kasih-Nya – melalui gambaran-Nya di dalam kita.

Silakan melihat pelajaran yang mengiringi untuk secara pribadi berperan serta dan memberikan semangat kepada orang lain! Disiplin Kasih telah menjadi peralatan yang sangat berguna bagi para pengikut Kristus di seluruh dunia yang telah menjalani jalur pemuridan dan pelayanan ini. Dengarkanlah beberapa kesaksian dari mereka dan bacalah cerita mereka mengenai pelayanan dan pemuridan dengan memilih Stories at www.harvestfoundation.org.

9/11/2009




Today I was surprised by the news of the death of one of my acquaintance who also was my teacher, she was also the jury of my debate competition when I was in high school.
We were often involved in the debate as jury, as I graduated. I was very shocked when I heard the news of her death. How not, as I recall, she was still in good health two weeks ago, when we got together organizing debate competition for high school kids. I didn’t even see the signs of sickness in her face. She was so healthy.

Also last night when I was in church, we talked about the murder case of a first high school student who conducted cruel. I got to think, why do people want to do a sadistic crime like that?

I also remember what happened last week when one of my friends called and asked for prayer for his brother who was in a coma and dying in the hospital. I still recall praying for his brother, although I wasn’t there with them in the hospital, I prayed from the church. I even contacted some friends as well for praying together We were so confident of the healing of our friend’s brother, we believed that he will be touched by God and be healed. But several minutes later I got news that my friend's brother had just breathed his last breath.

I then thought, why death comes so quickly?
I am sure, my friend never wanted his brother to go that soon and I'm also sure, that the junior high school student and my teacher never thought they would be called so soon as well.

.This afternoon I was lying in my bed thinking about this. I finally learned something, “Do not care whenever we are called home by the Father, at what time anyway, and by any means. We only need to know, as long as we have close and intimate relationship with Him who created us, death is not something that is so shocking and shaking”.

We do not need to know when are we going to die. What we need to know is where we go when we die.
Because after all, no matter you believe it or not, like it or not, but I just want to say, you will only spend your eternity in one of these two places; HEAVEN, OR HELL.

There’s no place in between. Even earth cannot be your hiding place.

Perhaps you often think, why sometimes God calls people so quickly.
You may also ask, what about the fate of those who do not know God? God impressed to not to give them the chance/opportunity. But if truth be told, God has given us many opportunities every day.
Every breath we breathe, every blink of our eyes, and each of our pulse, an opportunity is given by God. Opportunity for what? Opportunity to seek Him, know Him and open our hearts to Him.

It is written, "Seek the Lord while He may be found, call on Him while He is near".

Brother, I want to tell you, if you read this, be assured that God is waiting for you and He is pleased that you meet him. Do not waste your chance, because you can never know what will happen to you or the people closest to you after you finish reading this article.

Remind the people around you about this. Because all this week God taught me about this, which is to seek the Lord and call upon Him while He is near and may be found, because when He no longer so close to us, then it is death that come close to us.

God will continue to give us the opportunity while He is close to us and while He still may be found by us, BUT, when death comes it would not give you the opportunity again, even just to regret your life. DEATH WOULD NOT WAIT.

Are you ready?

I want to end this article with two questions:

1. If you died today, do you believe that you will go to heaven?
2. If you died today and you stand before God and God asked you, "why should I let you enter my Paradise?"

WHAT ‘S YOUR ANSWERS?

If you feel this posting blesses you, then forward this message to friends and your brothers and sisters.

God bless you,

~JACK LOLOIN`~
www.jack-online.tk


Hari ini saya dikejutkan oleh kabar tentang meninggalnya salah seorang kenalan saya yang juga adalah guru saya, beliau juga dulu adalah juri debat saya ketika saya masih SMA. Kami sering terlibat dalam kegiatan debat bersama sebagai juri begitu saya tamat. Saya sangat shock ketika mendengar kabar kematiannya. Bagaimana tidak, seingat saya, beliau masih dalam keadaan sehat dua minggu yang lalu, saat kami bersama-sama meng-orginze lomba debat untuk anak SMA. Saya tidak melihat tanda-tanda sakit di wajahnya. Beliau begitu sehat.

Semalampun ketika saya di gereja, kami berbincang mengenai kasus pembunuhan terhadap seorang siswa sekolah menegah pertama yang dilakukan secara sadis. Saya jadi berpikir, mengapa orang mau melakukan hal sesadis itu?

Saya juga teringat kejadian minggu lalu ketika salah seorang teman saya menelpon dan meminta doa untuk adiknya yang sedang koma dan sekarat di rumah sakit. Saya masih ingat berdoa buat adiknya, walaupun saya sedang tidak bersama dengan mereka di rumah sakit, saya berdoa dari gereja. Saya bahkan menghubungi beberapa teman juga untuk bersama berdoa. Kami begitu yakin adik teman kami akan dijamah oleh Tuhan dan menjadi sembuh. Tapi beberapa menit kemudian saya mendapat kabar bahwa adik teman saya baru saja menghembuskan nafas terakhirnya.

Saya kemudian berpikir, mengapa maut datang begitu cepat?
Saya yakin, teman saya tak pernah menginginkan adiknya pergi begitu cepat dan saya yakin siswa sekolah menegah pertama tadi dan guru saya pun tak pernah menyangka mereka akan dipanggil begitu cepat.

Siang ini saya berbaring di ranjang saya sambil merenungkan hal ini. Saya akhirnya belajar sesuatu, tidak peduli kapanpun kita dipanggil pulang oleh Bapa, di saat bagaimanapun juga dan dengan cara apapun juga kita hanya perlu tahu, selama kita dekat dan mempunyai hubungan intim dengan Dia yang menciptakan kita, maut bukanlah hal yang begitu mengagetkan dan menggocangkan.

Kita tak perlu tahu kapan kita mati, yang perlu kita ketahui adalah kemana kita pergi saat kita mati nanti.
Karena bagaimanapun juga, tak peduli anda percaya atau tidak, suka atau tidak, tapi saya hanya mau bilang, kekekalan anda nantinya hanya akan anda habiskan di dua tempat ini ; SURGA, ATAU NERAKA.

Tidak ada tempat di antaranya, bahkan bumi tak bisa menjadi persembunyian anda.

Mungkin sering anda berpikir, mengapa terkadang Tuhan memanggil orang begitu cepat? Mungkin anda juga bertanya, bagaimana dengan nasib mereka yang belum mengenal Tuhan? Tuhan terkesan tak memberi kesempatan kepada mereka. Tapi kalau mau jujur, Tuhan sudah memberi kita banyak kesempatan setiap hari. Setiap nafas yang kita hirup, setiap kedipan mata kita, dan setiap detak nadi kita, merupakan kesempatan yang Tuhan berikan. Kesempatan untuk apa? Untuk mencari Dia, mengenal Dia dan membuka hati bagi Dia.

Ada tertulis, "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada Nya selama Ia dekat".

Saudaraku, saya mau bilang pada anda, jika anda membaca tulisan ini, yakinlah Tuhan menantikan anda dan dan Ia berkenan agar anda bertemu dengan Nya. Jangan sia-siakan kesempatan anda, karena anda tidak pernah bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada anda ataupun orang terdekat anda setelah anda selesai membaca tulisan ini.

Ingatkan orang-orang di sekitar anda tentang hal ini. Karena sepanjang minggu ini Tuhan mengajarkan saya mengenai hal ini, yakni untuk mencari Tuhan dan berseru kepada Nya selama Ia dekat dan berkenan ditemui, karena begitu Ia tak lagi dekat dengan kita, maka mautlah yang mendekat dengan kita.

Tuhan akan terus memberi kita kesempatan selama Ia dekat dengan kita dan saat Ia masih berkenan ditemui oleh kita, TAPI, ketika maut mendekat ia takkan memberikan kepada anda kesempatan lagi, bahkan hanya untuk menyesali hidup anda.

Siapkah anda?

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan bebarapa pertanyaan :
1. Seandainya anda meninggal hari ini, apakah anda yakin pasti masuk surga?
2. Seandainya anda meninggal hari ini dan anda berdiri di hadapan Allah dan Allah bertanya pada anda, "mengapa Aku harus mengizinkan engkau masuk ke dalam surgaku?"

APAKAH JAWAB ANDA???

Jika anda merasa postingan ini memberkati anda, maka teruskanlah pesan ini kepada sahabat dan saudara-saudara anda.

Tuhan Memberkati Anda,

~JACK LOLOIN`~
www.jack-online.tk

9/05/2009




We live in a time where the divide between a faith in God and secularism seems to be ever increasing, what is the future of faith and what role does the Church play in ensuring that this future is secure?
As a leader of what is a dynamic and growing church, and a friend to many who pastor similar churches around the world, it is clear to me that the Kingdom of God is advancing on the planet today!
There are many local churches that are confounding the perception of the 21st century Church as old, empty and extraneous, and there are those who struggle to understand it. They find it difficult to accept, that this growth might in fact be attributed to people having a life-changing encounter with a real and living God.
The truth is the message of Jesus Christ is timeless, and it is as relevant today as it was some 2000 years ago. However, the challenge for all of us is how do we ensure that this generation hears this message in the midst of the thousands of other voices vying for their attention?
I believe, like the Sons of Issachar (1 Chronicles 12:32), we need to understand our times, and know what we ought to do if we are going to effectively reach this and future generations. In other words, we need to stay relevant and in touch with a dramatically changing world without compromising the integrity and power of the message of Christ.
To be relevant requires us to be ‘in the world, but not of it’. Connected to the world we live in but positioned in a way that brings hope, love and answers to people of all walks of life and experiences. Church should be enjoyed, not endured! People are not looking for stale religion; they want to know that God can make a difference in their lives, their families, their relationships and workplace today - and HE can.

WHAT KIND OF CHURCH WOULD I COME TO?
My wife Bobbie and I have been privileged to pastor Hillsong Church since it started some 23 years ago. From the very beginning, I asked myself the question (and regularly re-ask it), “If I wasn’t a pastor, what kind of church would I want to come to?” These are some of the things I, and our amazing team, have endeavoured to build.
As a leader, I want to preach to people’s Mondays, not just their Sundays. To give people Bible principles and tools that can be applied to every area of their life - their marriage, in raising their children, at work, in their finances, spiritually and as they respond to the needs of others in our community and world. I want to help empower and release people of all ages into all God has destined them to be, whether that be in entertainment, medicine, education, politics or any other sphere.
When people walk in the doors of our church my prayer is that they would encounter a God who loves them, and they meet a church family that rejoices in their coming home. I want people to come to the House of God with an expectation that, as well as being fed, inspired and challenged spiritually through the worship and the Word, our services will be full of life, energy and fun.
I want ours to be a church that is full of authentic and genuine people, as I believe the world is crying out for authenticity. People whose ‘yes’ is yes and ‘no’ is no. People who aren’t afraid to stand for something and admit they too face challenges and struggles.
I want ours to be a church defined by a spirit of generosity - both individual and corporate, as people recognise that they are saved and blessed for a much greater purpose than themselves. A church that is outward focused and reaches into our community and offers help - no strings attached.
But most of all, I want ours to be the kind of church that is committed to empowering the generations and releasing them to do even greater exploits in God’s name than those of my generation or those that have gone before. If we have a generational focus in all that we do, the faith will continue to surge forward and countless lives will continue to be indelibly changed.
I was recently thinking about this in relation to Psalm 44. Here the Sons of Korah reflect on the ‘good old days’, the days of their forefathers when God was with them in contrast to the days they were living in where they felt God had forsaken them.
In this Psalm they exclaim: “We have heard with our ears, O God; our fathers have told us what you did in their days, in days long ago. With your hand you drove out the nations and planted our fathers; you crushed the peoples and made our fathers flourish.” (Psalm 44:1-2)
What will the coming generations say when they look back in history to the 21st century? Will they, like the Sons of Korah, marvel at the move of God, the progress of the Church and the advancement of the Kingdom. I certainly hope so. I believe we have a responsibility to the legend and legacy we will leave the coming generations.
We have no control over how the future generations will steward what is given to them, but we can set them up to win by teaching them how to, ‘Love God, Love People & Love Life’.
If our earnest commitment as individual believers and leaders is fulfilling this, and all that this simple statement encapsulates, and then teaching others to do likewise, I believe the Church will never fade into insignificance.

By Brian Houston
© 2007 Brian Houston. Permission required to reproduce this article in any form.
For Brian Houston’s teaching on purpose, seasons and God’s timing, listen to “Time Is On Your Side” available here.


By Bobbie Houston
A fresh appreciation of all that the Word of God brings to our lives is stirring in my heart. Some months ago, I sensed the Holy Spirit whisper, “Bobbie, it’s all in My Word”. Sometimes when our ‘humanity’ surfaces and we feel a little inadequate, it’s good to be reminded THAT ALL WE NEED IS IN HIS WORD! Here are a handful of wonderful verses, designed to draw us back to basics… enjoy…
o Your WORD I have hidden in my heart, that I might not sin against You! (Psalm 119:11)
o My soul faints for Your salvation, but I hope in Your WORD! (Psalm 119:18)
o Forever, O Lord, Your WORD is settled in heaven! (Psalm 119:89)
o Your WORD is a lamp to my feet and a light to my path! (Psalm 119:105)
o You are my hiding place and my shield; I hope in Your WORD! (Psalm 119:114)
o Direct my steps by Your WORD, and let no iniquity have dominion over me! (Psalm 119:133)
o Your WORD is very pure; therefore Your servant loves it! (Psalm 119:140)
o I rise before the dawning of the morning, and cry for help. I hope in Your WORD! (Psalm 119:147)
o My eyes are awake through the night watches, that I may meditate on Your WORD! (Psalm 119:148)
o Plead my cause and redeem me; revive me according to Your WORD! (Psalm 119:154)
o The entirety of Your WORD is truth, and every one of Your righteous judgements endures forever! (Psalm 119:160)
o Princes persecute me without a cause, but my heart stands in awe of Your WORD! (Psalm 119:161)
o I rejoice at Your WORD as one who finds great treasure! (Psalm 119:162)
o Your WORDS were found, and I ate them, And Your WORD was to me the joy and rejoicing for my heart. For I am called by Your name, O Lord God of hosts! (Jer 15:16)
Hey, if you haven’t ‘eaten’ lately, go read your Bible!
We love you and continue to desire God’s finest for your lives.

© Brian Houston 2006 & © Bobbie Houston 2006

Revelation that you were born for a Cause bigger than yourself opens up a world more wonderful than most of us can imagine. If you start to become a blessing on the earth, and if your life begins to affect others in a positive way, then don’t be surprised (or dismayed) if and when opposition comes your way. Ephesians 6:10-14 tells us to stand and hold our ground in the heat of spiritual battle, but we also need to learn how to hold our ground when there is no actual war in sight.

Ground can be relinquished so easily, by simply not behaving as we ought to, especially on the days that are a little ‘normal’ or ‘unspectacular.’ You know the days I mean - the days when the most exciting thing you did was go to the mail box; the days when the only people you encounter are the people you live with; the days when we sometimes forget who we are because we are not wearing our Sunday-best.

It is usually the little issues of the heart that have the power to knock us off course, and if we are going to be effective in leadership then we need to guard certain things. I am very aware of the hundreds of people who watch my life. I want to live my life in such a way that I do not disappoint them. For that reason I need to understand the challenge and charge in the following verses. I need to discover for example, what it is to live ‘resistant to accusation.’ I need to know the keys to ‘living above reproach,’ and I need to know how to remain ’self controlled’ when life sometimes wants to make me lose control.
Read these verses (1 Timothy 3:2-7) carefully and allow me to share a few thoughts.

“Now a bishop (superintendent, overseer) must give no grounds for accusation but must be above reproach, the husband of one wife, circumspect and temperate and self-controlled; (he must be) sensible and well behaved and dignified and lead an orderly (disciplined) life; (he must be) hospitable (showing love for and being a friend to the believers, especially strangers or foreigners, and be) a capable and qualified teacher, not given to wine, not combative but gentle and considerate, not quarrelsome, but forbearing and peaceable, and not a lover of money (insatiable for wealth and ready to obtain it by questionable means).

He must rule his own household well, keeping his children under control, with true dignity, commanding their respect in every way and keeping them respectful. For if a man does not know how to rule his own household, how is he to take care of the church of God? He must not be a new convert, or he may (develop a beclouded and stupid state of mind) as the result of pride (be blinded by conceit and) fall into the condemnation that the devil once did.

Furthermore, he must have a good reputation and be well thought of by those outside (the church) lest he become involved in slander and incur reproach and fall into the devils trap.”

Live above accusation

When it comes to accusation our adversary is not the only one who can shoot fiery darts. Sometimes the unredeemed behaviour of those closest to us can fire a few bullets. If you come under fire, conviction seeks an inner strength that says, “I can handle this. I’m not going to get all destroyed by what is happening.” Conviction will cause someone to draw on their faith and examine themselves first. Then, if forgiveness is needed, they will seek that forgiveness. Forgiveness will always allow God room to move.

A person with conviction takes responsibility for their own heart, keeping it pure, so no accusation can actually find legal ground in their life. Proverbs 26:2 says, “The curse, causeless shall not come.”
This may help you understand how important godly behaviour is. Two types of armour are described in the Word. One word is used frequently and describes armour as a shield of light. It is speaking of godly Christ-like behaviour. I love the Lord; He actually makes it very simple for us, yet so often we make it incredibly complicated. Basically, if we get our act together, and behave in a manner that is correct, then this form of armour has the ability to deflect darkness and save us a lot of pain. The concept isn’t that difficult to grasp, but it’s amazing how many miss it.

The second word used is found in Ephesians 6 talks about fighting real spiritual forces. A person of conviction will wisely wear both, so that nothing will affect, contain or rob them.

Live above reproach

A sharp person of conviction recognises that leadership carries a price tag. Basically our margin for error is reduced. Life is fun, and perish the thought that we cannot be ourselves, but our behaviour needs to be sensible and well-behaved. A responsible leader is always mindful of offending others, and would never intentionally put a stumbling block in front of anyone.

Live with discipline

If you desire to succeed in life, it is pointless to try and avoid discipline. Discipline comes with the territory and it’s worth noting that undisciplined soldiers often perish, undisciplined athletes usually lose and undisciplined farmers miss the harvest.

Discipline simply means to be ‘trained’. Such a person realises that first and foremost the Word of God will effectively train them. They also realise that life’s experiences can train them and they also understand the importance of godly friends, who will steer them in the right direction. If you do not have godly friends, pray them in, and then never forget to be one yourself.

Live a generous and hospitable life

People with conviction regarding the bigger picture understand how important it is to be embracing and hospitable. Faith causes them to react beautifully and generously when confronted with unexpected guests. Grace marks such a believer.

When it comes to strangers and foreigners, conviction will cause you to rise above any shyness and insecurity, because often God uses such people to stretch our world. The planet is a big, bright, fabulous place and meeting such people always enlarges our worldview. The Bible also says you better be nice too, “because you never know when you might be entertaining angels unknown” (Hebrews 13:2). (Now that’s food for thought. Wouldn’t it be a major shame to discover you’d just been rude to an angel?)

Live as a qualified teacher

Leadership demands that we also become qualified and capable teachers. You may never actually stand publicly and speak, but your life will teach others. Literally speaking, your very lifestyle will show others the way to go.

God will use a variety of circumstances to stretch you, so you can develop into all God has called you to be. I remember my Heavenly Father deciding it was time for me to step out of my safe little world and grow. He knew what lay ahead for me and knew that to achieve it, I had to grow.

So He picked me up, carried me to the other side of the planet and gently dumped me in the midst of a bunch of strangers. They seriously intimidated me. (Even my wardrobe was intimidated, I borrowed clothes from all my friends). I felt sick as the plane landed. Behind my calm little facade, my seriously-challenged-comfort-zone was having a ’slight’ panic attack, “How come they’re all so darn confident? Is this just an American thing or do they know something I don’t know?”

However it was this very confidence (the confidence of a bunch of strangers), that God had purposed would stretch and take me to new levels.

© Bobbie Houston. Permission required to publish this article in any form

Popular Posts

Edited by Jack Loloin. Diberdayakan oleh Blogger.

Author Info

Cari Blog Ini

Like This Theme

featured Slider

About Me

Hi, I am the author Elegance Blog.This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style.

Like us

Facebook

About me

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Praesent non leo vestibulum, condimentum elit non, venenatis

eros.

Kontributor

Contact us

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Categories

Our Team

Slider (Add Label Name Here!) (Documentation Required)

I am the Author



Video of the Day

Sponsor

y