
Semua bagian dari ciptaan Allah mencerminkan kemuliaan-Nya, tetapi Dia menempatkan cerminan-Nya yang termulia – gambaran-Nya – di dalam kita! Pada saat Dia menciptakan manusia, Allah berkata, ”Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26). Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kejadian 1:27).
Diciptakan Serupa Gambaran Allah
Keunikan dari membawa gambaran Allah mempunyai pengertian yang mengejutkan. Karena gambaran Allah ada di dalam kita, kita dilibatkan dalam proses pemulihan “segala sesuatu” (Kolose 1:20) dan dalam proses pengenalan berbagai ragam hikmat Allah melalui jemaat (Efesus 3:10). Kita juga membawa karakteristik dari gambaran-Nya di dalam kita. Kreatifitas Allah dicerminkan dalam kemampuan kita membuat sesuatu yang baru, untuk merencanakan masa depan, untuk membawa peraturan/tata tertib untuk mengatasi keributan/kekacauan, dan untuk bekerja seperti yang Allah telah lakukan dan kerjakan. Dengan kemampuan tata bahasa kita, kita dapat mengkomunikasikan gagasan-gagasan dan sesuatu yang tidak jelas melalui kata-kata kita. Kita adalah mahluk sosial, kita tahu bagaimana membangun suatu hubungan yang mempunyai maksud dan tujuan yang berguna dengan orang-orang, alam, dan pekerjaan. Kita telah diberikan pilihan moral, yang tidak diberikan kepada binatang dan alam; kita mempunyai kemampuan untuk melihat dan memilih antara sesuatu yang membangun atau menghancurkan, antara keindahan dan ketidakindahan. Dan kita mempunyai kemampuan untuk bertindak dengan tujuan yang tidak mementingkan diri sendiri tetapi bagi kepentingan orang lain: pelayanan yang rela berkorban.
Pelayanan yang disertai unsur kasih dan pengorbanan – karakteristik terakhir – merupakan tanda yang penting dari gambaran Allah. Mengapa? Karena tanpa adanya karakter kasih dan pengorbanan, sifat-sifat yang lain dapat menjadi jahat. Kita mempunyai banyak contoh di dunia ini; kreativitas telah disalahgunakan untuk menghasilkan bom atom. Kemampuan tata bahasa kita telah menghasilkan pornografi. Hubungan kita dapat berubah menjadi kekejaman. Pilihan moral telah digunakan untuk menyesuaikan pembersihan suku dan mendukung aborsi.
Diciptakan untuk Pelayanan
Allah bertujuan agar orang-orang menggunakan sifat-sifat dari-Nya dalam hubungannya dengan pelayanan, tetapi – sejak Adam dan Hawa menjadi pembohong mula-mula – orang-orang telah mengalihkan sifat-sifat tersebut untuk keuntungan pribadi dan telah menyimpang dari gambaran Allah. Roma 1:22-32 secara grafik menjelaskan apa yang terjadi ketika orang-orang menukar gambaran Allah yang kekal untuk sebuah gambaran yang jahat: Masyarakat kita penuh dengan hubungan seksual yang tidak murni dan penyembahan kepada mahluk-mahluk tertentu daripada Pencipta-Nya. Kita cenderung untuk iri hati, membunuh, berselisih, menipu, penuh dengki, bergosip, dan menghujat. Ada kebencian yang tetap terhadap Allah, kecongkakan, tinggi hati, suka membual, motivasi yang jahat, dan ketidaktaatan; hidup dengan cara yang tidak berperasaan, tidak setia, tidak mempunyai hati, dan kejam. Dan kita lebih cenderung untuk bersikap setuju terhadap mereka yang melakukan hal-hal yang sama daripada hidup dalam kehidupan yang lebih baik menurut tujuan yang Allah telah tetapkan bagi kita. Kita telah menjadi orang-orang yang bodoh.
Dalam Perjanjian Lama, orang-orang tidak dapat mengerti sepenuhnya apa maksud dari membawa gambaran Allah – terutama sifat-sifat dari pelayanan yang disertai dengan kasih dan pengorbanan. Meskipun demikian, di dalam Perjanjian Baru, Allah mengungkapkan gambaran-Nya di dalam dua cara – di dalam Yesus dan di dalam jemaat.
Pada saat yang telah ditetapkan, Allah mengutus anak-Nya, gambaran yang lengkap dan sempurna dari Allah (Ibrani 1:1-3b). Untuk pertama kalinya, orang-orang dapat melihat seperti apa Allah itu. Mereka tidak hanya dapat melihat dalam gambaran-Nya sebagai Allah, tetapi juga sebagai manusia seperti yang telah menjadi tujuan Allah – manusia yang menjadi teladan yang sempurna sesuai dengan tujuan penciptaannya , yaitu diciptakan menurut gambar Allah. Sekarang, ketika kita melihat kepada Yesus, kita melihat sifat-sifat Allah yang paling penting dari gambaran Allah. Kita melihat lebih daripada kerohanian yang sempurna, stamina secara fisik dan kekuatannya sebagai tukang kayu, hikmat yang melebihi orang-orang Farisi, dan ketrampilan dalam membangun hubungan-hubungan yang membuat orang-orang mengasihi-Nya karena kerendahan hati dan dengan demikian membungkam orang-orang yang tinggi hati. Kita melihat di dalam diri Yesus segi yang paling penting dari gambaran Allah – pelayanan. Yesus menggambarkan diri-Nya sesuai dengan tujuan-Nya, “Anak manusia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28).
Pertimbangkan juga gambaran Paulus yang begitu kuat mengenai pelayanan Yesus:
“[Yesus], yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:6-8).
Allah adalah pelayan, Dan Yesus menjadi model dari pelayanan Allah! Dalam ayat-ayat selanjutnya, kita melihat bahwa Allah memuliakan Yesus oleh karena Yesus telah menunjukkan perbuatan yang terbesar dari gambaran Allah – pelayanan sukarela dan pengorbanan.
“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, “ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:9-11).
Pelayanan juga dapat dilihat pada ayat-ayat lain. Allah berkata kepada orang-orang Israel bahwa Allah disenangkan melalui pengorbanan mereka dan pelayanan mereka bagi orang-orang yang teraniaya (Yesaya 58). Yesus berkata kepada murid-muridNya bahwa tanda yang membedakan mereka yang berada di Kerajaan Surga adalah pelayanan mereka – mereka memberi makan yang kelaparan, memberi pakaian kepada yang telanjang, dan mengunjungi mereka yang sakit dan dipenjarakan (Matius 25). Agama yang murni dan sempurna dalam arti yang singkat adalah melayani janda-janda dan yatim piatu – mereka yang membutuhkan pertolongan (Yakobus 1:27). Di ayat lain, Yesus menekankan prioritas dari mengasihi dan melayani sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri (Markus 12:31).
Sekarang Allah mengundang anak-anakNya untuk dijadikan serupa dengan gambaran Anak-Nya (Roma 8:29)—yaitu melayani. Hanya dengan melayani kita dapat memenuhi peranan yang Allah berikan kepada kita. Diciptakan dalam gambaran Allah, kita juga diciptakan untuk melayani dengan rela berkorban. Ketika kita melayani dengan rela berkorban seperti yang Yesus telah lakukan, kita sudah memenuhi sebagian besar gambaran Allah. Dan selagi kita mencerminkan gambaran dan sifat-sifat mulia Allah, Dia dipermuliakan. Allah juga mengungkapkan gambaran diri-Nya di dalam jemaat. Jemaat menyatakan kepenuhan daripada Allah: “Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Efesus 1:22-23). Jemaat, yang adalah tubuh Kristus, adalah suatu perkumpulan dari orang-orang percaya yang melayani yang membawa gambaran-Nya dan membawa rencana-Nya dengan memberikan fasilitas untuk proses lahir baru, pemuridan, melengkapi orang-orang percaya, dan mengutus orang-orang ke dalam dunia sebagai duta/wakil pelayan..
Banyak orang Kristen – terutama mereka yang mengalami kerugian secara ekonomi dan politik atau dengan kata lain, mengalami pelecehan dalam sejarah – tersinggung karenan adanya gagasan bahwa mereka seharusnya menjadi pelayan. Dalam sudut pandang mereka, pelayanan dapat menjadi sesuatu hal yang menurunkan derajat mereka dan di luar kemauan mereka. Ya, pelayanan yang diluar kemauan bisa saja menjadi perbudakan yang sama sekali palsu. Pelayanan yang di luar kemauan dapat menjadi suatu tindakan yang menurunkan derajat, karena alasan kesulitan ekonomi. Dan dapat menjadi pelayanan yang dipaksakan apabila orang-orang yang mempunyai kuasa tidak bersedia melakukannya. Tetapi ini bukanlah kemauan, pelayanan yang rela berkorban yang dimaksud oleh Alkitab. Ini bukanlah gambaran Allah yang merupakan hak asasi dari anak-anakNya.
Allah tidak memerintahkan pelayanan hanya karena kepentingannya sendiri, tetapi karena pelayanan menyatakan dan merupakan motivasi dari sifat-Nya yang terbesar – Kasih. Kasih tidak didaftar sebagai ungkapan dari gambaran Allah karena kasih dari Allah sebagian besar dicerminkan melalui jemaat dan orang-orang di dalam jemaatnya yang mereka layani. Bahkan pada kenyataannnya, Yohanes bertanya bagaiman kasih Allah bisa ada di dalam diri seseorang apabila dia berkata bahwa dia mengasihi tetapi dia tidak menaruh belas kasihan terhadap saudara yang sedang membutuhkan (1 Yohanes 3:17). Allah begitu ingin memenuhi kita dengan kasih-Nya sehingga para penonton akan mengetahui bahwa kasih yang kita nyatakan kepada mereka adalah kasih Allah. Kitab Suci menunjukkan kepada kita bahwa cara-cara dasar/prinsip bagi kita untuk menunjukkan kasih Allah adalah dengan mengasihi sesama (Lukas 10, Yesaya 58, Yakobus 1, Yakobus 2, 1 Yohanes 3). Seharusnyalah kita tidak pernah mengurangi kesadaran kita akan rencana Allah, di mana kita yang adalah Tubuh Kristus, merupakan perangkat utama, di mana melalui kita kuasa yang mengubahkan hidup dari Allah dapat disalurkan!.
Kasih dan pelayanan yang rela berkorban mungkin merupakan karakteristik yang paling sulit dari gambaran Allah. Mengapa? Melayani orang lain seperti Kristus berarti menyerahkan hak-hak dan posisi kita. Hal itu berarti bahwa kita rela menyangkali diri kita sendiri demi orang lain. Melayani seperti Yesus melayani merupakan hal yang mustahil untuk diterima oleh Roh Kudus-Nya yang berdiam di dalam kita, tetapi melayani seperti Kristus melayani adalah hal yang mungkin. Bukan hanya mungkin, pelatihan itu membuahkan hasil dalam pemenuhan dari tujuan Allah ketika kita Dia menciptakan kita dalam gambaran-Nya.
Jemaat perlu menolong orang-orangnya untuk memperoleh kembali pengertian alkitabiah mengenai pelayanan.Apakah yang harus kita lakukan apabila kita tidak menjadi pelayan dalam pengertian alkitabiah? Ketika kita melayani minat kita sendiri, kita harus beralih dan berjalan dalam arah yang lain, melayani minat orang lain. Pelayanan alkitabiah merupakan hal yang tidak mungkin tanpa adanya Kristus yang berdiam di dalam kita, tetapi merupakan hal yang mungkin melalui kuasa dari Roh Allah. Paulus mengingatkan para pembacanya bahwa Allah dan manusia saling bekerjasama untuk meraih tujuan Allah:
“…karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:12b-13).
Disiplin dan Pelatihan
Jika semua hal ini adalah benar, bagaimanakah kita dapat mencerminkan segi dari gambaran Allah ini? Satu cara adalah dengan mengembangkan apa yang Allah telah taruhkan di dalam kita. Sangat jelas bahwa mengembangkan karakter serupa dengan Kristus membutuhkan kebiasaan baru dan ketrampilan baru. Dan untuk mengembangkan kebiasaan baru dan ketrampilan baru, kita perlu pendisiplinan. Mengapa kita harus tunduk kepada pendisiplinan? Para atlit yang yang mau menjadi atlit yang profesional harus mendisiplinkan diri mereka pada jadwal yang keras dari pelatihan dan berjam-jam latihan tanpa henti. Semua murid yang mau lulus dengan nilai tertinggi di kelasnya dan mendapatkan pekerjaan yang terbaik mendisiplinkan diri mereka untuk belajar dengan keras selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, orang-orang menyerahkan diri mereka kepada pendisiplinan yang baru karena hasil yang mereka ingin capai sangat penting bagi mereka.
Dalam arti yang sama, disiplin dan pelatihan dibutuhkan untuk pertumbuhan secara kerohanian. Paulus memanggil anak disiknya yang masih muda, untuk berlatih secara rohani. “Latihan badani juga berguna, tetapi latihan rohani merupakan hal yang lebih penting dan merupakan obat penguat untuk semua hal yang anda lakukan. Dengan demikian, latihlah dirimu secara rohani dan latihlan dirimu menjadi orang Kristen yang lebih baik karena hal itu akan menolongmu bukan hanya untuk kehidupan sekarang ini, tetapi juga untuk kehidupan di masa yang akan datang” (1 Timotius 4:8, LB). Ya, disiplin membutuhkan pengorbanan dan usaha, tetapi itu merupakan hal yang baik! Merupakan hal yang baik bagi mereka yang ingin melayani, dan hal itu membawa kita lebih dekat pada apa yang menjadi maksud dan tujuan Allah menciptakan kita.
Murid Kasih
Kita mengusulkan sebuah latihan untuk membantu mendisiplinkan kita untuk menjadi lebih serupa dari segi melayani dari gambaran Allah. Pelatihan ini – yaitu Disiplin Kasih – adalah sebuah pelatihan rohani. Hal ini dirancang untuk menolong para pengikut dari Kristus berlatih dalam menunjukkan kasih Allah dalam melayani orang lain. Dengan kata lain, melatih kita untuk melayani! Pelatihan rohani lainnya, seperti berdoa, membaca Kitab Suci, merenungkan firman Tuhan, menghafal, dan berpuasa – mempunyai penekanan yang vertical (tegak lurus), memperkuat hubungan antara Allah dengan murid-muridNya. Pendisiplinan mempunyai penekanan yang horizontal (mendatar) – dengan demikian pemasukan dari kasih Allah di dalam kita yang datangnya dari tinggal di dalam Kristus dinyatakan keluar, kepada orang lain.
Pada intinya Disiplin Kasih adalah sebuah hal yang sederhana. Mereka yang menerapkannya berdoa sungguh-sungguh agar mendapatkan kesempatan untuk melayani – dan melayani! Disiplin ini membutuhkan komitmen dan sebuah hubungan yang dekat kepada Allah, agar kekuatan-Nya dapat bekerja melalui kita. Walaupun mudah dalam konsepnya, berlatih mempraktekkan disiplin ini akan mengubah kehidupan seseorang.
Disiplin Kasih juga merupakan hal yang sangat praktis. Membantu para orang-orang percaya secara pribadi untuk mencerminkan karakter Kristus sebagai hamba/pelayan dalam empat segi yang menjadi perhatian Allah (hikmat, fisik, rohani, dan sosial) di dalam dunia yang mereka tinggali (keluarga, jemaat, dan masyarakat). Kasih Allah dan tujuan-Nya dinyatakan pada saat kita melayani orang lain dalam hubungan dan segi kehidupan yang berbeda! Orang-orang yang kita layani dalam pendisiplinan ini pada umumnya adalah orang-orang yang kita kenal dan sering jumpai dalam kehidupan sehari-hari – orang-orang di dalam keluarga kita, jemaat, tempat kerja, sekolah, dan tetangga. Pelayanan kita kepada mereka bisa dilakukan dengan mudah. Kita tidak membutuhkan uang yang banyak, waktu, bakat/talenta, atau kepribadian, atau keahlian. Kita hanya perlu untuk mencerminkan gambaran Kristus dengan cara rela berkorban untuk melayani mereka. Pikirkan akibat dari orang-orang percaya yang bersedia melayani, satu persatu, dapat mengubah dunia di sekeliling mereka –dan pikirkan akibat yang ditimbulkan dari orang-orang percaya,satu persatu, yang dalam kasih dan ketaatan dapat membuat perubahan pada saat mereka melayani orang-orang yang Allah tempatkan pada jalur mereka!
Orang-orang yang berlatih Disiplin Kasih mengalami pertumbuhan dalam beberapa cara. Mereka menunjukkan kepekaan pada kebutuhan orang lain. Merka belajar untuk secara taat menanggapi kebutuhan orang lain dalam tingkah laku yang lebih luas dan seimbang. Mereka berkreativitas dalam pelayanan mereka. Kemampuan untuk menunjukkan kreativitas mereka dalam pelayanan bertujuan dan menitikberatkan pada Allah sebagai sumber dari kasih kita. Pelayanan mereka kepada orang lain disertai dengan anugrah. Dan hal yang paling penting, mereka mengalami keintiman yang lebih meningkat dengan Allah.
Murid dari Pelatihan Kasih
Disiplin Kasih menggunakan sebuah acuan untuk merekam ungkapan-ungkapan kecil kepada keluarga kita, para pengikut orang percaya, dan sesama kita yang bukan orang Kristen. Acuan tersebut memberikan kita pandangan yang lebih luas dari kesempatan untuk melayani. Sesudah itu, setiap pelayanan direkam/dicatat dalam sebuah jurnal singkat, jadi kita dapat memantulkan doa-doa kita sepenuhnya pada pelayanan kita dan dapat dipertanggungjawabkan kepada seorang penasehat atau kelompok kecil. Kita memakai peralatan dasarnya untuk merencanakan, bertindak, mencerminkan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Semoga Allah memakai Disiplin Kasih untuk menolong kita dan mereka yang kita muridkan untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus – lebih lagi mencerminkan kasih Allah, pengorbanan Allah, dan kemauan untuk melayani sama seperti Allah. Semoga hal ini dapat memperbesar kemampuan kita untuk melihat dan menanggapi kebutuhan-kebutuhan dari mereka yang ada dalam dunia kita masing-masing, dan semoga hal ini dapat menolong kita mengembangkan gaya hidup pelayanan yang mencerminkan gambaran Allah. Semoga kita dapat bertumbuh dalam keintiman dengan Bapa kita pada saat kita mengasihi orang lain dengan kuasa dan kelimpahan dari kasih-Nya di dalam kita dan ketika kita menaati perintah yang terbesar – mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran kita dengan mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri (Matius 22:36-38). Dan semoga mereka yang kita layani mengalami pengertian yang lebih baru dan lebih lengkap dari Allah dan kasih-Nya – melalui gambaran-Nya di dalam kita.
Silakan melihat pelajaran yang mengiringi untuk secara pribadi berperan serta dan memberikan semangat kepada orang lain! Disiplin Kasih telah menjadi peralatan yang sangat berguna bagi para pengikut Kristus di seluruh dunia yang telah menjalani jalur pemuridan dan pelayanan ini. Dengarkanlah beberapa kesaksian dari mereka dan bacalah cerita mereka mengenai pelayanan dan pemuridan dengan memilih Stories at www.harvestfoundation.org.