1/12/2020

Sekilas terbesit dalam pikiran saya mengenai kualitas gereja secara individu dan organisasi. Bagaimana sebuah gereja dijalankan dan bagaimana gereja melayani dan bagaimana gereja menciptakan budaya yang berdampak bagi kehidupan bermasyarakat.
Sampai detik ini di mana tulisan ini saya buat, kira-kira sudah ada sepuluh gereja berbeda yang saya hadiri, baik secara aktif maupun pasif. Banyak hal yang saya pelajari dari gereja-gereja ini. Dari disiplinnya, musiknya, kekeluargaannya, bahkan hal-hal yang tidak seharusnya dicontohi.

Saya dapati bahwa tidak ada gereja yang sempurna dan tidak ada gereja yang 100% sesuai dengan keinginan kita. Tapi kalau mau jujur, dari pengamatan saya pribadi, gereja perlahan mulai kehilangan tujuan dan arah. I mean, gereja jadi sekedar ajang kumpul atau social club tanpa visi misi yang benar-benar untuk menjangkau dan merubah dunia, sehingga orang tidak lagi mempertimbangkan kualitas rohani sebagai tolak ukur untuk menjadi jemaat, melainkan selama nama Tuhan disebut then its good enough.

Banyak hal dalam hidup yang seharusnya bisa dimulai dari gereja, namun harus kita akui gereja seolah kehilangan rasa dan sinarnya mulai redup. Alih-alih menjadi garam dan terang, tidak sedikit gereja yang ditawari dan digelapkan. Tidak sedikit gereja yang menjadi liberal dan mengadopsi sekularisme di dalamnya. Bukan lagi menjadi tempat dimana moral baik diajarkan, gereja modern saat ini seolah menjadi tempat toleransi bagi ketidakbermoralan. Jemaat bisa datang semaunya, berpakaian semaunya, bergaya semaunya, dan oleh gereja diterima tanpa ada usaha untuk merubah mereka dan dalih "semua butuh proses" menjadi alasan kenapa perubahan ataupun teguran tidak kita temukan dalam gereja itu.

Lalu kemudian kita lihat sebuah institusi yang lebih besar yang disebut "negara" yang mana gereja menjadi bagian di dalamnya. Dengan konflik dan strugle yang dihadapi sebuah negara, beban ini harusnya lebih ringan karena ada orang Kristen di dalamnya. Orang Kristen / gereja harus menjadi alasan kenapa bangsa ini harus maju. Terlalu sering kita menaruh beban begitu banyak pada pemerintahan dan terlalu banyak keluhan kita tujukan bagi pemerintah tanpa melihat diri kita sendiri sebagai gereja, yang dipanggil Tuhan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan dalam bangsa ini.

Coba kita jujur saja, lihat ke sekeliling gedung gereja kita atau rumah jemaat kita. Berapa banyak orang miskin, orang sakit, orang terbuang yang sama sekali tidak terjangkau oleh gereja?
Seharusnya kita bercermin dan bertanya apa yang sudah kita perbuat sebagai gereja untuk kemajuan bangsa ini? Kita tidak bisa dan tidak boleh menyalahkan pemerintah atas kemiskinan, kejahatan, kemunduran bangsa kita, kalau kita sebagai gereja tidak berbuat apa-apa.

Gereja harusnya menjadi jawaban atas masalah dalam bangsa ini, dan bukan menyumbang masalah bagi bangsa. Kualitas sebuah bangsa harus bisa dilihat dari kualitas gerejanya. Contoh kecilnya, kita tidak bisa berharap menjadi masyarakat yang menghargai waktu, jika sebagai jemaat gereja kita sendiri sering terlambat beribadah. Jika ibadah pada Tuhan saja kita remehkan, lalu kita bermimpi punya masyarakat yang on time? Sejauh mana para gembala dan leaders dalam gereja menitikberatkan disiplin dalam bagi jemaatnya? Dengan begitu banyak jumlah warga miskin dalam masyarakat kita, seberapa sering gereja datang dan membantu meringankan beban mereka? Sudah lupakah kita bahwa alkitab tidak pernah berkata bahwa orang miskin adalah tanggung jawab negara melainkan tanggung jawab orang percaya?

Saya suka melakukan observasi pada setiap gereja yang saya datangi. Pertanyaan yang sering saya ajukan adalah, jika cara mereka melayani seperti ini, cara mereka bersosialisasi seperti ini, cara mereka berkomunikasi seperti ini, bayangkan seperti apa output yang dihasilkan jemaat ini bagi bangsa? Jika jumlah jemaat yang terlambat selalu banyak dan tidak ada usaha dari para leaders untuk mengatasinya, hampir pasti kualitas yang sama akan muncul dalam dunia kerja dan semua aspek kehidupan. Lalu kita menyalahkan pemerintah? Are you kidding me? Jika bangsa ini mau berubah, perubahan itu harus dimulai dari gereja!

Saya teringat akan kutipan dalam Matius 5:13-16

"Kamu adalah garam dunia . Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah  itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik  dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Juga kutipan dari 2 Tawarikh 7:14

dan umat-Ku yang atasnya Nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku serta berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku, Aku akan mendengar dari surga dan akan mengampuni dosa mereka serta memulihkan negeri mereka.

Pemulihan dan kebaikan suatu bangsa adalah beban dari orang percaya di dalamnya. Sudah saatnya gereja menjadi penghasil individu berkualitas dan berkompetensi bangsa ini, yang bukan cuma baik secara rohani tapi juga bermanfaat bagi kemanusiaan. 
Sudah saatnya kita berhenti hanya sekedar pergi ke gereja tapi menjadi gereja yang sebenarnya. Saya rindu saat di mana ketika dunia mencari pribadi terampil dan kompeten, maka mereka akan mencari gereja. Semoga itu juga menjadi kerinduan anda. 

Tuhan memberkati

-Jack Loloin-


Popular Posts

Edited by Jack Loloin. Diberdayakan oleh Blogger.

Author Info

Cari Blog Ini

Like This Theme

featured Slider

About Me

Hi, I am the author Elegance Blog.This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style.

Like us

Facebook

About me

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Praesent non leo vestibulum, condimentum elit non, venenatis

eros.

Kontributor

Contact us

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Categories

Our Team

Slider (Add Label Name Here!) (Documentation Required)

I am the Author



Video of the Day

Sponsor

y